Notification

×

Iklan

Iklan

Adakah Diantara Manusia Yang Tidak Memiliki Aib?

7 Mei 2021 | 18:05 WIB Last Updated 2021-05-07T15:59:03Z

Khotbah Jum'at hari ini, Jum'at 7/05/2021 di Mesjid Al Hasannah Pangururan Samosir di bawakan oleh Ustad Zunaedy Sitorus  S.kom.
GREENBERITA.com - Dalam hidup ini, jika kita hanya ingin berteman dengan yang tidak memiliki aib dan kesalahan maka kita hanya bisa berteman dengan malaikat. Atau siapa diantara kita yang tidak memiliki Aib?, inilah tema dari khotbah Jum'at hari ini (jum'at 7/05) di Mesjid Al Hasannah Pangururan Samosir di bawakan oleh Ustad Zunaedy Sitorus  S.kom.

Manusia siapapun dia pasti memiliki aib dan kesalahan. Karena Allah berfirman, 


"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh."

(QS. Al-Ahzab: 72)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,


“Semua anak cucu Adam banyak salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” 

(HR. Tirmidzi: 2499)


Makanya Raja’ bin Al-Haiwah rahimahullah seorang ulama zaman tabi’in berpesan melalui nasehatnya,


“Barang siapa yang tidak mau bersaudara kecuali dengan orang yang tidak ada kekurangannya, pastilah sedikit temannya. Dan barang siapa yang tidak ridha terhadap temannya kecuali dengan keikhlasan kepadanya, dia akan selalu merasa marah. Dan barang siapa yang banyak mencela saudaranya atas setiap kesalahan, maka banyak musuhnya.” 

(Munajjid al-khatib: 2/18)


Oleh sebab itu, jika bebas dari aib, cela dan kesalahan adalah tolak ukur dari persaudaraan dan pertemanan maka kita tidak akan pernah bisa mengikat persaudaraan dan pertemanan yang kuat yang dibangun di atas kecintaan kepada Allah untuk selamanya, karena tidak ada manusia yang akan sesuai dengan kriteria kita tersebut.


KHUTBAH KEDUA: "Balasan Sesuai Dengan Amalan"


Tiga orang menanti sidang dengan kepercayan diri yang sangat besar. Ketiganya yakin betul akan diputuskan menjadi penghuni surga. Namun, pengadilan Allah jauh berbeda dengan pengadilan manusia. Allah Mahatahu segala hal meski ukurannya sebesar zarrah. Allah pun memiliki sifat Mahaadil yang memutuskan setiap perkara tanpa zalim.


Tiga orang yang merasa menjadi calon penghuni surga ini pun tergelak. Mereka yang terdiri dari orang-orang saleh itu justru berakhir di neraka. Mereka diseret dengan kasar ke dalam api yang membara. Apa gerangan yang terjadi? 

Rupanya mereka hanyalah saleh di pandangan manusia, namun tak mentauhidkan Allah dalam niat amal mereka.


Orang pertama dipanggil menghadap Allah. Ia merupakan seorang pria yang mati syahid. Si pria mengakui banyaknya nikmat yang diberikan Allah padanya. Allah pun bertanya, "Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat itu?"


Mujahid itu menjawab, "Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid," ujarnya.


Allah pun menyangkalnya, "Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian," firman-Nya. Mujahid itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke jahanam.


Orang kedua pun dipanggil. Ia merupakan seorang alim ulama yang mengajarkan Alquran pada manusia. Seperti orang pertama, Allah bertanya hal yang sama, "Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?"


Sang ulama menjawab, "Saya telah membaca, mempelajari, dan mengajarkannya Alquran karena Engkau," ujarnya.


Namun Allah berfirman, "Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim dan kau membaca Alquran agar kamu disebut sebagai seorang qari," Allah mengadili. Sang alim ulama pun menyusul si mujahid, masuk ke neraka yang apinya menjilat-jilat.


Orang ketiga pun dipanggil. Kali ini ia merupakan seorang yang sangat dermawan. Sang dermawan dianugerahi Allah harta yang melimpah. Allah pun menanyakan tangung jawabnya atas nikmat itu, "Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat-Ku?" firman-Nya.


Sang dermawan menjawab, "Saya tidak pernah meninggalkan sedekah dan infak di jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau," jawabnya.


Ia pun tak jauh beda dengan dua orang sebelumnya. 

"Kau berdusta," firman Allah. 

"Kau melakukannya karena ingin disebut sebagai seorang dermawan. Dan begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu," firman-Nya.


Sang dermawan yang riya ini pun diseret dan dilempar ke neraka, bergabung dengan dua temannya yang juga menyimpan sifat riya di hati.


Di mata manusia, ketiganya merupakan seorang yang taat beribadah dan diyakini akan menjadi penduduk surga. Namun, hanya Allah yang mengetahui segala isi hati hamba-Nya. Ketiganya tak pernah mengikhlaskan amalan untuk Allah, melainkan agar diakui manusia. Mereka pun berakhir di neraka dan menjadi penghuni pertama neraka.


Kisah pengadilan akhirat tersebut terdapat dalam hadis Rasulullah dari Abu Hurairah. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim, an-Nasa'i, Imam Ahmad, dan Baihaqy. Kisah yang sama dalam teks hadis yang berbeda juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim.


Di akhir hadis, Abu Hurairah bahkan membaca firman Allah yang menjadi hikmah pelajaran atas kisah tersebut. "Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan," Alquran surah Hud ayat 15-16.

(GB-RIZAL/REL)