Notification

×

Iklan

Iklan

Besok, Petani Samosir Suarakan Aksi Tolak Pengrusakan Hutan dan Lingkungan

7 Mei 2019 | 18:08 WIB Last Updated 2019-11-10T13:35:26Z
PANGURURAN,GREENBERITA.comBanjir bandang telah menerjang dan meluluhlantakan 5 (lima) rumah di Ransang Bosi Desa Buntu Mauli, Kecamatan Sitiotio Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara pada Jumat,(3/5/2019)

Akibat Banjir Bandang ini, satu orang ditemukan tewas dan dua jembatan putus di Desa Buntu Mauli, Kecamatan Sitiotio sehingga akses jalan kabupaten disekitar Kecamatan Sitiotio putus dan tidak bisa dilalui. Bahkan sampai Minggu malam, (4/5/2019), aliran listrik putus kelokasi bencana sehingga suasana malam semakin mencekam pasca bencana ditambah hujan deras yang tak kunjung reda.

Beberapa waktu lalu, pada Kamis (21/3/2019) sekitar pukul 16.00 WIB di Sianjurmula, kejadian banjir bandang juga merusak 5 (lima) hektar lahan atau areal pertanian di tiga desa, yakni Desa Sarimarrihit, Desa Habeahan Naburahan, dan Desa Aek Sipitudai, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir.

Menyikapi rentetan kejadian bencana alam tersebut, petani Samosir yang tergabung dalam STKS (Serikat Kabupaten Samosir) bersama beberapa elemen akan melakukan aksi damai untuk menyampaikan keprihatinan serta beberapa dugaan penyebab bencana banjir bandang di Sitiotio yang telah terjadi sebanyak 3 (tiga) kali yaitu pada tahun 1994, tahun 2010 serta tanggal 3 Mei 2019 lalu.

Selain melakukan Aksi Damai dan Keprihatinan serta beberapa orasi, aksi ini juga akan memberikan selebaran-selebaran yang merupakan edukasi dan pencerahan kepada rakyat Samosir tentang kerusakan yang telah terjadi dengan hutan dan lingkungan di seluruh Kabupaten Samosir.

STKS bersama beberapa elemen siap berjuang tolak pengrusakan Hutan dan Lingkungan di Samosir
Pernyataan kepruhatinan itu disampaikan Ketua STKS Samosir, Esbon Siringoringo kepada greenberita.com setelah melakukan rapat koordinasi pada Selasa, (6/5/2019) di Sopo STKS.

"Benar, kita akan melakukan aksi damai berupan Aksi Damai dan Orasi serta memberikan Petisi Tolak Pengrusakan Hutan dan Lingkungan diseluruh Kabupaten Samosir. Hal ini terjadi karena eksploitasi hutan di wilayah daerah tangkapan air selama bertahun-tahun baik secara Legal maupun Ilegal dan kini mengancam kelestarian Danau Toba,salah satu di antaranya menyebabkan pasokan air terganggu, hutan tidak lagi mampu menyerap maupun menyimpan air," ujar Esbon Siringoringo.

Menurutnya, akibat pengrusakan hutan dan lingkungan ini menjadi sebuah keresahan bagi petani yang tinggal, hidup dan bekerja disekitaran sumber air. Petani merasa dirinya terancam saat bertani, rusaknya lahan pertanian yang merupakan satu-satunya sumber ekonomi dan hilangnya sumber penghidupan yang selaras dengan alam.

"Karenanya,untuk mencegah terjadinya bencana alam susulan di kabupaten yang kita cinta ini., pengrusakan hutan yang telah terjadi baik oleh perusahaan Ilegal loging maupun Legal Loging seperti PT. TPL dan perusahaan perorangan lainnyaharus segera ditutup," pungkas Esbon Siringoringo.

Menurut rencana, aksi damai Petisi Tolak Pengrusakan Hutan dan Lingkungan di Samosir ini akan dilakukan pada Rabu, (8/5/2019) di Pangururan di Simpang 4 HKBP Bolon.

Peserta aksi terdiri dari beberapa elemen seperti Serikat Tani Kabupaten Samosir (STKS), Komunitas Samosir Green, KSPPM dan IWO Samosir.

(green-ft)