Notification

×

Iklan

Iklan

Pisang dan Alpukat Membusuk Usai Warung Dibongkar, Pedagang Tele Minta Jalan Keluar

19 Sep 2026 | 20:36 WIB Last Updated 2026-09-19T13:36:08Z

Warung Dibongkar berakibat Dagangan Membusuk, Ibu Royman Sinaga Keluhkan Kerugian dan Minta Solusi Pemkab Samosir (19/9- Fando/gb)
GREENBERITA.com- Pembongkaran warung di kawasan Menara Pandang Tele, Kabupaten Samosir, tidak hanya berdampak pada tempat usaha pedagang, tetapi juga membuat sejumlah dagangan milik Juliana, ibu dari Royman Sinaga, membusuk karena tidak dapat dijual.


Juliana mengaku mengalami kerugian setelah warung tempatnya berjualan dibongkar oleh Satpol PP Pemkab Samosir. Kondisi tersebut membuat dirinya tidak dapat berjualan seperti biasanya dan kehilangan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.


“Pisang dan alpukat saya busuk karena tidak bisa berjualan setelah warung dibongkar. Barang dagangan itu seharusnya dijual untuk mendapatkan uang, tetapi sekarang malah terbuang,” ujar Juliana.


Menurut Juliana, pisang dan alpukat merupakan bagian dari dagangan yang biasa dijualnya kepada pengunjung di kawasan Menara Pandang Tele.


“Kalau kami masih berjualan, tentu pisang dan alpukat itu bisa terjual. Karena warung sudah dibongkar, kami tidak bisa berjualan dan dagangan akhirnya membusuk,” katanya.


Juliana mengaku, kondisi tersebut menambah kerugian yang harus ditanggung keluarganya. Selain kehilangan tempat untuk berjualan, modal yang sudah dikeluarkan untuk membeli atau menyediakan dagangan juga tidak kembali.


“Bagi kami, berjualan itu untuk mencari makan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau tidak berjualan, dari mana kami mendapatkan uang?” keluhnya.


Ia mengatakan, persoalan tersebut semakin berat karena keluarganya juga sedang menghadapi masalah setelah anaknya, Royman Sinaga, berada di lokasi ketika penertiban warung berlangsung.


“Anak saya masih SMP. Saya juga sedih melihat dia harus ikut terseret dalam persoalan ini. Kami sebenarnya hanya ingin mencari nafkah,” ujar Juliana saat ditemui dirumahnya, Sabtu (19/9/2026).


Juliana berharap pemerintah tidak hanya melihat keberadaan warung dari sisi penertiban atau penataan kawasan, tetapi juga mempertimbangkan kehidupan pedagang kecil yang selama ini menggantungkan penghasilan dari berjualan.


“Kami bukan orang yang punya banyak usaha. Kami hanya berjualan untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau warung dibongkar, kami kehilangan tempat mencari makan,” katanya.


Ia juga berharap pemerintah memberikan solusi bagi pedagang yang terdampak penertiban di kawasan Menara Pandang Tele.


“Kalau memang kawasan itu mau ditata, tolong pikirkan juga kami yang selama ini berjualan. Jangan hanya dibongkar, tetapi kami tidak tahu lagi harus berjualan di mana,” ucapnya.


Juliana menambahkan, dirinya tidak mempersoalkan jika pemerintah melakukan penataan kawasan, sepanjang ada komunikasi dan solusi bagi pedagang.


“Kami mau ditata, tetapi tolong diberikan jalan keluarnya. Kami juga punya keluarga yang harus dinafkahi dan anak yang harus sekolah,” katanya.


Menurut Juliana, kerugian akibat pisang dan alpukat yang membusuk memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan persoalan yang lebih besar, tetapi bagi keluarga mereka setiap hasil penjualan sangat berarti.


“Bagi orang lain mungkin pisang dan alpukat itu tidak seberapa. Tetapi bagi kami, itu modal dan uang untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.


Juliana berharap keluhan pedagang dapat didengar Pemkab Samosir dan ada penyelesaian yang tidak semakin merugikan masyarakat kecil.


“Kami hanya meminta pemerintah melihat keadaan kami. Jangan sampai setelah warung dibongkar, kami juga kehilangan mata pencaharian,” pungkas Juliana.


Sementara itu, Kepala Desa Sosor Dolok, Kecamatan Harian, Robungsu Limbong diminta tanggapannya terkait hal tersebut dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, sampai berita ini dikirim ke redaksi belum membalas.


Kepala desa juga ditemui dikantornya, namun tidak berada di tempat. Menurut salah seorang staf dikantor tersebut, kepala desa ke Pangururan.**(Gb-ferndt01)