Notification

×

Iklan

Iklan

Alot Aksi September Hitam BEM SI Sumbagut di DPRD Sumut: 3 Hari Tuntutan MBG Karo Harus Ditindaklanjuti

11 Sep 2026 | 02:03 WIB Last Updated 2026-09-10T19:03:29Z

Mahasiswa Geruduk DPRD Sumut, Keracunan MBG Karo hingga Reformasi Polri Jadi Tuntutan (10/9- Ferndt/gb)
GREENBERITA.com- Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM SI Sumbagut menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Sumatera Utara (Sumut), Kamis (10/9/2026) sore. 


Dalam aksi bertajuk “September Hitam” tersebut, mahasiswa mendesak pemerintah mengusut tuntas berbagai persoalan, termasuk kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo.


Aksi berlangsung alot hingga menjelang malam. Massa membawa beragam spanduk protes yang berisi kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah maupun aparat.


Di depan gedung DPRD Sumut, mahasiswa juga menaburkan bunga dan menyalakan lilin sebagai simbol duka. Teatrikal tabur bunga dilakukan sambil mengibarkan panji-panji BEM SI.


Koordinator Wilayah BEM SI Sumbagut, Ahmad Arya Attallah, mengatakan salah satu tuntutan utama mahasiswa berkaitan dengan insiden keracunan MBG massal di Kabupaten Karo.


"Sedih rasanya kita melihat bahwasanya adik-adik kita ini terkena keracunan dari MBG ini. Bahkan kabarnya itu keracunan massal. Dan hari ini juga kita temukan lagi kejanggalan-kejanggalan adik-adik yang mengonsumsi MBG mengalami hilang ingatan," kata Arya dalam orasinya.

 

Menurut mahasiswa, persoalan tersebut harus ditangani secara komprehensif oleh pemerintah. Mereka menilai kasus keracunan MBG merupakan persoalan krusial yang tidak boleh dibiarkan.


"Padahal orang tua capek-capek sudah membesarkan anaknya seperti itu, ya. Tetapi kali ini hilang (ingatan) dengan program 2 tahun saja. Kita ingin tidak hanya mahasiswa yang menyuarakan hal tersebut. Kita ingin pihak kepolisian, pemerintah, bisa ikut berkolaborasi bareng kita supaya bisa menuntaskan masalah ini secepatnya," lanjut Ketua BEM asal Politeknik Negeri Medan ini.


Ketua BEM USU, Anggal Al Maaris, menambahkan pihaknya mendesak adanya sanksi tegas terkait kasus tersebut. Ia meminta pihak yang bertanggung jawab atas insiden keracunan MBG ditindak secara hukum.


"Kita melihat anak-anak yang terkena keracunan, seperti saudari yang di Karo, dia hilang ingatan. Ibunya, ayahnya, keluarganya, dia tidak tahu. Sehingga itu yang kami sampaikan tadi, ini perlu ditindaklanjuti. Kita harus tahu siapa dalang di balik ini," desaknya.


Angga mengatakan massa aksi telah bertemu dengan Ketua DPRD Sumut, Erni Sitorus. Dalam pertemuan tersebut, persoalan keracunan MBG di Kabupaten Karo turut disampaikan.


BEM SI Sumut meminta apabila dalam waktu tiga hari tuntutan mereka tidak diindahkan, DPRD Sumut didesak menyelenggarakan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU).


"Kalau masalah ini (keracunan MBG) tidak dituntaskan, maka SPPG-SPPG yang lain akan sewenang-wenang, akan merasa tidak takut kalau mereka membuat keracunan. Sehingga perlu ini ditindaklanjuti dengan tegas, siapa pelaku-pelaku di balik keracunan ini, itu harus betul-betul ditindaklanjuti secara hukum," tegas Angga ancam aksi kembali.


Selain kasus MBG, mahasiswa membawa sejumlah isu nasional dalam aksi “September Hitam”. Mereka antara lain mendesak pengusutan kekerasan yang terjadi terhadap Andri Yunus serta mendorong reformasi Polri agar tidak berhenti sebagai wacana.


Terkait pertemuan dengan Ketua DPRD Sumut, Angga menyebut pembahasan berjalan lancar meski diwarnai dinamika.


"Hasil pertemuan dengan Ketua DPRD Sumut, alhamdulillah berjalan dengan lancar. Walaupun tadi dipenuhi dengan dinamika, sangat lama Ketua DPRD Sumut untuk keluar," ujar Angga seakan menyindir seperti dilansir dari Kompas.


Sebelum membubarkan diri, BEM SI juga menyoroti persoalan penanganan bencana alam. Mereka menyampaikan kekhawatiran para penyintas bencana yang masih dihantui rasa takut menghadapi musim penghujan.

Angga meminta pemerintah menempatkan penanganan bencana sebagai salah satu isu utama, khususnya bagi masyarakat yang masih trauma terhadap potensi banjir dan bencana susulan.


"Ini mau masuk musim penghujan. Banyak kawan-kawan kita seperti di Tapanuli Tengah yang merasakan was-was. Apabila hujan lebat, maka akan banjir lagi. Sehingga kami meminta komitmen dan tanggung jawab dari pemerintah untuk ini benar-benar diselesaikan," terangnya.


Ratusan mahasiswa BEM SI Sumbagut kemudian meninggalkan kawasan gedung DPRD Sumut menjelang malam setelah menyampaikan seluruh tuntutan mereka.**(Gb-ferndt01)