![]() |
| Usai Damai di Polres Samosir, Seorang Anak RS Diduga Dianiaya Satpol PP Mendadak Lemas dan Pucat Dilarikan ke RSUD (17/9- Ferndt/gb) |
Beberapa jam setelah perdamaian di ruang SPKT Polres Samosir, Kamis sore (17/9/2026), RS yang telah dibawa pulang ke rumahnya di Desa Sosor Dolok, Kecamatan Harian, tiba-tiba mengalami tubuh lemas dan pucat.
Keluarga kemudian membawa RS ke RSUD Hadrianus Sinaga Pangururan sekitar pukul 20.00 WIB untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan perawatan medis.
Sebelumnya, RS menjalani proses mediasi dengan oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Samosir yang dipimpin langsung Plt Kasat Pol PP Samosir di ruang SPKT Polres Samosir.
Berdasarkan pengamatan jurnalis di Mapolres Samosir, selama menunggu rombongan Satpol PP Samosir untuk proses mediasi, RS hanya tertidur lemas sambil meringis memegangi bagian rusuk perutnya di sebuah meja panjang tepat di samping ruang SPKT Polres Samosir.
Saat itu, RS disebut tidak mendapatkan perawatan pertama atas rasa sakit yang dialaminya setelah diduga mengalami penganiayaan.
Sampe Sinaga (45), ayah RS, mengatakan kondisi anaknya mulai kembali memburuk setelah mereka meninggalkan Pangururan usai proses mediasi.
"Kami pulang sekitar jam 6 dari Pangururan. Sekira jam 7 sampai di Tele, anak kami mengalami tubuh lemas dan pucat, sehingga kami larikan kerumah sakit," ujar Sampe.
Ibu RS, Juliana (44), juga mengatakan anaknya mengeluhkan rasa sakit pada bagian rusuk sebelah kanan. Ia menyebut bagian tersebut terlihat agak membengkak berdasarkan pengamatannya.
"Rusuk sebelah kanan anak saya dikeluhkan sakit dan kelihatan agak membengkak," kata Juliana.
Juliana juga mengaku keberatan dengan proses perdamaian yang dilakukan di Polres Samosir. Ia menyatakan tidak mengetahui adanya proses perdamaian tersebut dan tidak memberikan persetujuan.
Sebelumnya, Juliana menjelaskan bahwa RS berada di lokasi saat proses pembongkaran kios yang akan dilakukan Satpol PP. Ketika itu, ia meminta anaknya tidak bersekolah untuk membantu mengangkat barang-barang dagangan.
"Saya menyuruh anak saya agar tidak sekolah, agar membantu saya mengangkati barang," tutur Juliana.
Menurut Juliana, keputusan tersebut diambil karena dirinya merasa kelelahan setelah menghadapi situasi pada malam sebelumnya. Ia mengaku tidak sanggup lagi mengangkat barang-barang tersebut.
"Saya nggak sanggup lagi mengangkat barang itu, karena sudah capek tadi malam menghadang Satpol PP," katanya.
RS kemudian mengikuti permintaan ibunya dan membantu mengangkat barang-barang di tempat mereka berjualan yang rencananya akan dibongkar.
Juliana selanjutnya menuturkan bahwa anaknya mengalami tindakan kekerasan ketika berada di lokasi.
"Anak saya dikeroyok banyak Satpol PP, sampai anak saya mengeluarkan darah dari mulutnya," ungkap Juliana.
Akibat kejadian tersebut, RS sebelumnya sempat mendapatkan perawatan medis. Namun, setelah pulang ke rumah usai proses mediasi, pihak keluarga kembali mengeluhkan kondisi tubuh RS hingga akhirnya membawanya ke RSUD Hadrianus Sinaga.
Hingga Kamis malam, kedua orangtua RS bersama sejumlah warga yang berjualan di kawasan Tele masih menunggu hasil pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisi kesehatan RS sekaligus memastikan penyebab keluhan yang dialaminya.**(Gb-ferndt01)








