Notification

×

Iklan

Iklan

Banjir Bandang Terjang Garoga, Warga Soroti Penebangan Hutan dan Ancaman Luapan dari Perbukitan

27 Sep 2026 | 18:39 WIB Last Updated 2026-09-27T11:39:10Z

Pemerintah Desa Garoga bersama warga gotong royong bersihkan rumah warga terkena aliran banjir bandang air bercampur berbatuan di Simanindo (27/9- fando/gb)
GREENBERITA.com- Banjir bandang menerjang Dusun I Sitobu, Desa Garoga, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sabtu (26/9/2026) sore. Air bah membawa material batu, pasir, lumpur, dan kayu dari kawasan perbukitan hingga masuk ke sekitar permukiman warga.


Peristiwa tersebut membuat warga meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir susulan. Kondisi kawasan perbukitan di sekitar permukiman juga menjadi sorotan karena dinilai perlu mendapat perhatian untuk mencegah bencana serupa.


Kepala Dusun Sitobu, Dusun I Desa Garoga, Herbet Ambarita (50), mengatakan sebelum banjir terjadi tidak terdapat aliran air atau sungai yang mengalir di lokasi tersebut. Namun, kondisi geografis berupa dua bukit dengan lembah di antara keduanya membuat kawasan itu berpotensi menampung aliran air ketika hujan deras.


“Di kiri dan kanan bukit itu rawan longsor. Di antara dua bukit ada lembah. Kalau musim penghujan, air menumpuk sehingga bisa mengakibatkan luapan,” ujar Herbet, Minggu (27/9/2026), saat Pemerintah desa bersama warga sekitar membersihkan material lumpur di rumah terdampak.


Menurut Herbet, kondisi tersebut berbeda ketika musim kemarau. Warga di sekitar kawasan itu justru mengalami kesulitan memperoleh air, termasuk untuk kebutuhan air minum, sehingga sebagian harus membeli air.


“Seingat saya, fenomena banjir di dusun ini sifatnya musiman. Kurang lebih lima tahun sekali pernah terjadi. Di bagian atas bukit juga sudah banyak kayu yang tumbang dan membusuk,” katanya.


Herbet mengaku sekitar dua tahun lalu sempat naik ke kawasan perbukitan tersebut. Saat itu, ia melihat sebagian kawasan hutan telah berubah menjadi lahan perkebunan kopi dan cokelat.


Ia berharap kondisi kawasan hutan mendapat perhatian pemerintah, termasuk aktivitas penderesan getah pinus. Menurutnya, kelestarian hutan perlu dijaga karena kawasan tersebut memiliki fungsi penting sebagai daerah resapan air.


“Kalau boleh, penderesan getah pinus di bukit itu dihentikan. Supaya hutan tetap lestari dan mampu menjaga keseimbangan lingkungan,” ujarnya.


Sementara itu, warga terdampak, Nurcahaya Boru Sijabat (60), mengatakan hujan deras mulai terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu, ia bersama keluarganya berada di dalam rumah sebelum mendengar suara hantaman keras dari arah depan rumah.


“Sekitar pukul 17.00 WIB kami berada di rumah. Tiba-tiba hujan deras. Lalu saya mendengar suara hentakan dan hantaman di depan rumah, seberang jalan. Ternyata banjir membawa material batu dan pasir,” sebutnya.


Nurcahaya mengatakan kejadian serupa bukan kali pertama terjadi di kawasan sekitar Ambarita. Sekitar sembilan tahun lalu, kawasan SMA Negeri 1 Ambarita, yang kini secara administratif dikenal sebagai SMA Negeri 1 Simanindo, juga disebut pernah terdampak genangan yang membawa material lumpur, pasir, dan kerikil.


Ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanganan setelah bencana terjadi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan melalui penghijauan dan perlindungan kawasan hutan.


“Semoga pemerintah peka menangani kondisi ini, terutama melakukan pencegahan dengan program penghijauan. Hutan harus dilestarikan dan tidak terus dieksploitasi. Kembalikan alam kepada fungsi sebenarnya dan jangan dirusak hanya karena kepentingan sesaat,” katanya.


Pasca-banjir, Kapolres Samosir datang meninjau kondisi warga terdampak. Sejumlah warga kemudian dievakuasi ke Polsek Simanindo sebagai langkah antisipasi apabila terjadi banjir susulan.


Kepala Desa Garoga, Jannes Rumahorbo, mengatakan pemerintah desa bersama pihak terkait terus memantau kondisi wilayah terdampak untuk memastikan keselamatan warga setelah banjir membawa material dari kawasan perbukitan.


Pemerintah desa juga melakukan pendataan terhadap dampak banjir. Data tersebut akan menjadi bahan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Samosir untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.


“Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan memantau kondisi di lapangan. Keselamatan dan keamanan masyarakat menjadi perhatian utama pemerintah desa,” ujar Jannes.


Ia mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan agar tetap waspada, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Warga diminta segera mencari tempat yang lebih aman apabila melihat tanda-tanda peningkatan debit air maupun munculnya material seperti batu, lumpur, pasir, dan kayu dari arah perbukitan.


“Pemerintah desa akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan segera melaporkan apabila melihat kondisi yang berpotensi membahayakan,” katanya.


Ia menambahkan, menjaga kelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat. Dengan langkah pencegahan dan koordinasi yang baik, risiko bencana serupa diharapkan dapat diminimalkan.


Catatan mengenai potensi banjir bandang di wilayah Simanindo juga bukan persoalan baru. Kajian akademik Universitas Negeri Medan pada 2020 secara khusus membahas pengembangan media mitigasi bencana banjir bandang di SMA Negeri 1 Ambarita dan SMA Negeri 1 Sitiotio, Kabupaten Samosir.


Hal tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap aspek mitigasi, terutama pada kawasan permukiman dan fasilitas pendidikan yang berada di wilayah dengan potensi aliran air dari perbukitan.


Sebelumnya, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Kenegerian Ambarita (AMAKTA), Ridwan Liberty Sinaga, turut menyoroti kondisi lingkungan di kawasan hutan Kenegerian Ambarita menyusul terjadinya banjir bandang tersebut.


“Hari ini, alam hutan Kenegerian Ambarita sudah tidak baik-baik. Banjir bandang sudah dimulai,” kata Ridwan.


Ridwan mengatakan, pihaknya telah berulang kali menyuarakan persoalan lingkungan serta menyampaikan tuntutan terkait kondisi hutan di wilayah tersebut.


“Setahun sudah kami berjuang, bersuara, menuntut dan mengadukan para perusak hutan, tetapi mereka tutup mulut, tutup mata,” ujarnya.


Pernyataan Ridwan tersebut disampaikan sebagai respons atas banjir bandang yang terjadi di wilayah Desa Garoga. Ia menilai kondisi lingkungan dan kawasan hutan perlu mendapat perhatian serius dari pihak terkait.**(Gb-ferndt01)