Notification

×

Iklan

Iklan

Siswa SMP Gantung Diri Akibat Banyak Tugas Sekolah Online

28 Okt 2020 | 18:32 WIB Last Updated 2020-11-03T13:56:31Z

Foto : Ilustrasi Gantung DIri

KALIMANTAN UTARA, GREENBERITA.com || 
Seorang siswa di salah satu SMP di Tarakan, Kalimantan Utara ditemukan tewas  gantung diri di kamar mandi tempat tinggalnya di Kelurahan Sebengkok, Selasa sekitar 17.00 WITA.


“Berdasarkan keterangan beberapa saksi, korban ini orangnya pendiam tapi pernah mengeluh karena banyak tugas dari sekolah,” kata Kasat Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polresta Tarakan Iptu Muhammad Aldi di Tarakan, yang dilansir dari Newscorner, Selasa (27/10).


Tewasnya siswa yang berusia 15 tahun tersebut membuat geger warga sekitar tempat tinggal korban di RT. 32 Kelurahan Sebengkok.


Selanjutnya petugas dari Polresta Tarakan membawa korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan untuk dilakukan visum.


“Hasil visum tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Posisi korban lidahnya tergigit dan mengeluarkan kotoran, dugaan awal kami memang merupakan murni gantung diri,” kata Aldi sebagaimana dilansir Antara.


Penyidik juga sudah mendatangi memeriksa beberapa saksi menemukan pertama kali yang ada di Tempat Kejadian Perkara (TKP).


“Saksi yang diperiksa baik itu dari keluarga atau dari kerabat yang diminta tolong, termasuk orang tua korban,” kata Aldi.


Sejumlah warga mengaku prihatin dan meminta agar pihak sekolah dan orangtua menjadikan kasus ini sebagai pembelajaran.


“Innalillahi wa innalillahi roji’un. Selain banyak tugas tanpa orangtua sadari, bentakan dan amarahan mereka bisa menjadi beban mental anak tertekan,” ujarnya Icha salah seorang pelajar menuturkan tekanan selama “studi from home” selama pandemi Covid-19.


Amy, salah seorang pelajar SMA Tarakan mengatakan bahwa bisa jadi hal itu dipicu orangtua yang kurang perhatian terhadap anak.


“Sekolah (proses mengajar belajar) tatap muka bukan jaminan jika orangtua kurang perhatian sehingga beban ditanggung sendiri anak, apalagi di masa pandemi ini tingkat stres tambah tinggi,” ujarnya.


“Hal yang dikhawatirkan terjadi, bagaimana anak tidak stress, di sekolah mendapat beban bahkan ancaman dari pengajar terkait nilai, belum lagi masalah biaya pulsa dan jaringan internet banyak bermasalah,” kata Kartini, salah seorang orangtua pelajar di Tarakan.


Persoalan lain, peranan orangtua ikut membuat siswa banyak tertekan karena mereka memang tidak memiliki kemampuan ikut membimbing atau mengajar.


Ia berharap atas kejadian itu segera dievaluasi tentang sikap para guru serta sistem belajar mengajar jarak jauh ini.


(gb-ars/rel)