Notification

×

Iklan

Iklan

Turnamen Sepakbola Budi Mulia Ricuh, Ini Alasan Panitia Diskualifikasi SMP 9 Siantar

14 Nov 2018 | 20:01 WIB Last Updated 2018-11-19T11:35:11Z
Suasana kericuhan di meja komisi pertandingan sepakbola di Budi Mulia Siantar, Rabu (14/11/2018).
SIANTAR, GREENBERITA.com-Turnamen sepakbola antar SMP se-Siantar yang digelar dalam rangka ulang tahun ke-60 SMA RK Budi Mulia berlangsung ricuh di lapangan sekolah tersebut Jalan Melanthon Siregar, Siantar, Rabu (14/11/2018) sore.

Satu tim sepakbola, SMP Negeri 9 Siantar didiskualifikasi oleh panitia pertandingan, saat melawan SMP Budi Mulia memperebutkan posisi tiga dan empat.

Jasa Purba selaku panitia pertandingan kepada greenberita.com, Rabu (14/11/2018) malam, menyebut alasan diskualifikasi berawal ketika selesai babak pertama, ada tim official dari SMP Negeri 9 mau intervensi wasit.

"Saya selaku panitia memanggil tim official untuk meluruskan, tetapi pada saat memanggil mereka tidak ada kerja sama. Sudah berapa kali saya panggil tapi tidak ada niat untuk datang sampai saya memberikan sanksi kalau tidak datang maka tim akan saya diskualifikasi," terang Jasa.

Pada saat seperti itu, lanjut Jasa, jawaban dari official SMP Negeri 9 justru mengatakan silakan didiskualifikasi. "Maka itu saya mengambil keputusan SMP 9 didiskualifikasi. Itu lah ceritanya," terangnya.

Jasa  mengakui, awalnya pihak tim official SMP Negeri 9 menyebut, gol ke gawang SMP Negeri 9 berbau offside. Itu disampaikan ke asisten wasit pertandingan.

Dia menambahkan, sebelumnya tim SMP Negeri 9 sudah ricuh dari samping lapangan sampai ke meja komisi pertandingan.

Sebelumnya, Lundu Tamba selaku guru SMP Negeri 9 yang mendampingi skuat SMP Negeri 9 melontarkan kekecewaannya atas sikap wasit dan panitia turnamen yang mendiskualifikasi anak-anak asuhannya secara arogan

Menurut Lundu, diskualifikasi bermula adanya protes penonton terhadap hakim garis, menyebut gol kedua ke gawang SMP Negeri 9 sudah dalam posisi offside sebelumnya. Pada saat itu berlangsung babak pertama. Skor di babak ini 2 : 2.

Saat jeda pertandingan babak pertama ini, manajer SMP Negeri 9 coba layangkan protes, sama seperti yang disampaikan penonton. Protes tersebut justru direspons panita secara reaktif dengan mendiskualifikasi skuat SMP Negeri 9.

"Kasian anak-anak jadi korban kearoganan panitia dan wasit yang tidak profesional. Peraturan mana yang mengatakan dengan kejadian tersebut langsung main diskualifikasi. Jelas kami sangat dirugikan dengan sikap arogan pantia," ungkap Lundu. (red)