![]() |
| Rapidin Simbolon Sentil Keras Pemkab Samosir Usai Siswa SMA Tewas Gantung Diri Diduga karena Faktor Kemiskinan (31/3- Ferndt/gb) |
GREENBERITA.com–Tragedi meninggalnya seorang pelajar kelas X SMA Negeri 1 Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, yang diduga mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi keluarga, memicu reaksi keras dari anggota Komisi XIII DPR RI, Rapidin Simbolon.
Politikus PDI Perjuangan itu menyebut pemerintah daerah harus bertanggung jawab jika dugaan motif kemiskinan tersebut benar.
"Sangat miris mendengar kabar ini, dan mengucapkan duka cita yang sangat mendalam," sebut Rapidin Simbolon kepada wartawan Selasa (31/3/2026).
Ketua PDI-P Sumatera Utara itu mengatakan, seorang pelajar SMA di Kabupaten Samosir mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, dugaan sementara motifnya adalah faktor ekonomi keluarga.
"Jika dugaan ini betul, yang paling bertanggungjawab adalah pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Samosir," sebutnya.
Menurutnya, pemerintah atau negara lalai dan tidak hadir bagi mereka yang miskin dan terlantar.
"Sesuai pasal 34 ayat 1, UUD 1945 menyatakan fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara," ujarnya.
Ia menilai Pemerintah Kabupaten seharusnya melakukan pemenuhan kebutuhan dasar, pemberdayaan, dan perlindungan sosial agar masyarakat dapat mandiri serta hidup layak.
"Kemana Pemerintah Kabupaten Samosir, sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, apakah tidak memperhatikan warganya yang dihimpit oleh kemiskinan amat luar biasa," tegasnya.
Rapidin juga menyoroti tidak adanya langkah antisipasi terhadap dampak kemarau panjang yang disebut telah berlangsung cukup lama.
"Sama sekali tidak ada kebijakan jaring pengaman sosial, malah pemerintah asyik berpesta ria, dengan mendatangkan band papan atas, band Ungu menghabiskan anggaran miliaran rupiah," imbuh mantan Bupati Samosir itu.
Ia turut menyinggung kebijakan pengadaan mobil dinas mewah di tengah kondisi ekonomi warga yang sulit. Menurutnya, Bupati Samosir lebih mengutamakan gaya hidup mewah dengan membeli mobil dinas mewah senilai Rp3,1 miliar.
"Parahnya lagi Kadis Dinas Sosialnya mendekam dalam penjara, akibat korupsi memutilasi bantuan sosial dari Kemensos, yang diperuntukkan bagi warga Sihotang yg terdampak akibat banjir bandang," ujarnya miris.
Menurut Rapidin, peristiwa ini harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah agar lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat.
"Pemkab Samosir selalu tampil percaya diri di medsos, seperti buzzer membully setiap kritikan, tak pernah memikirkan warga yang ekonominya tertekan," ungkapnya lagi.
Ia menegaskan, jika benar faktor ekonomi menjadi penyebab seorang pelajar mengakhiri hidupnya, maka hati nurani dan kinerja aparatur Pemkab Samosir patut dipertanyakan.
"Jangan hanya massive untuk mengiklankan keberhasilan, namun hasil yang didapatkan kemiskinan terjadi dimana-mana, betul-betul runyam," sebutnya.
Rapidin juga mengaku prihatin karena menurutnya Bupati Vandiko Timotius Gultom jarang terlihat berada di daerah dan turun langsung melihat kondisi masyarakat.
"Bupati asyik di luar kota, menghabiskan anggaran untuk perjalanan dinas, sementara masyarakat tertekan akibat kemiskinan," kata dia.
Karena itu, ia mendorong pemerintah pusat turun tangan langsung membantu Kabupaten Samosir dalam menangani persoalan kemiskinan yang disebut telah menjalar hingga ke pelosok desa.**(Gb-ferndt01)
















