Kegiatan yang digelar melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Marpangir bukan sekadar tradisi membersihkan dan menyegarkan tubuh. Tradisi ini menggunakan unte pangir atau jeruk purut sebagai bagian penting dari ramuan pangir, yang dimaknai sebagai simbol pembersihan diri serta pengingat akan keharmonisan manusia dengan alam dan nilai-nilai budaya.
Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, mengatakan penggalian kembali tradisi leluhur berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Warisan budaya seperti ini akan terus kita gali untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Dengan kekayaan alam dan sajian budaya yang menarik, kita berharap pariwisata berkembang, ekonomi masyarakat meningkat, dan kelestarian budaya tetap terjaga,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba, Rikardo Hutajulu, menambahkan bahwa Marpangir merupakan bagian dari kekayaan kearifan lokal yang perlu diwariskan kepada generasi muda agar tetap dikenal dan lestari.
Rangkaian kegiatan dimeriahkan dengan Gondang Sipitu Lili, Marhata Adat, Tortor Pangurason, prosesi Marpangir, Tortor Rindu Matogu, serta berbagai pertunjukan budaya. Diskusi adat dan budaya atau Marnonang juga digelar untuk memperdalam pemahaman masyarakat mengenai makna tradisi tersebut.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Toba berharap Marpangir tetap menjadi bagian dari identitas budaya Batak sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya di kawasan Danau Toba.
Turut hadir Bupati Toba periode 2000–2005, Sahala Tampubolon; Ketua DPRD Kabupaten Toba, Franshendrik Tambunan; Kapolres Toba, AKBP Vinsensius Jimmy Parapaga; perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara dan BPODT; jajaran pemerintah daerah; akademisi; organisasi kemasyarakatan; tokoh adat; tokoh agama; serta undangan lainnya.**(Gb-fando)
.jpg)












