GREENBERITA.com- Peletakan batu pertama pembangunan Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Samosir di Lumban Suhi-suhi, Sabtu (15/8/2026), tidak sekadar menandai dimulainya pembangunan gedung partai. Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membawa pesan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar Samosir dipandang dengan visi jangka panjang hingga seratus tahun ke depan.
Batu Pertama Kantor PDIP Samosir Diletakkan Sekjen Hasto, sembari bawa Pesan Megawati soal Samosir 100 Tahun ke Depan (15/8- Ferndt)
Gondang sabangunan terdengar ketika Hasto tiba di Lumban Suhi-suhi. Tortor turut menyambut kedatangannya. Hasto hadir bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ideologi dan Kaderisasi Syaifullah Djafar Hidayat serta Juru Bicara DPP PDIP Aryo Seno Baskoro untuk menghadiri agenda peletakan batu pertama pembangunan Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Samosir.
Hasto didampingi Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Drs Rapidin Simbolon MM dan Ketua DPC PDI-P Samosir Osvaldo Ardiles Simbolon, jajaran DPD, serta para ketua DPC PDI Perjuangan kabupaten dan kota se-Sumatera Utara.
Batu yang diletakkan itu disebut Hasto memiliki makna lebih luas dari sekadar penanda pembangunan gedung. Ia mengaitkannya dengan sejarah Danau Toba, Pusuk Buhit, warisan budaya Batak, gagasan Bung Karno hingga masa depan Samosir.
Hasto menyampaikan pesan khusus Megawati setiap kali dirinya datang ke Samosir.
“Setiap saya datang ke Samosir, Ibu Megawati selalu menitipkan pesan,” kata Hasto.
Menurut Megawati, Samosir tidak cukup dilihat hanya sebagai sebuah kabupaten di tengah Danau Toba. Kawasan itu memiliki jejak penting dalam sejarah bumi dan peradaban.
Hasto menyebut letusan supervulkanik Toba sekitar 74 ribu tahun lalu sebagai bagian dari sejarah geologi dunia. Danau Toba kemudian ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari kawasan Global Geopark.
Karena itu, Samosir menurutnya tidak cukup hanya dipandang sebagai tujuan wisata. Penataan kawasan harus menggunakan perspektif jangka panjang agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Pesan Megawati juga menyentuh persoalan tata ruang. Kawasan Danau Toba harus tetap menyediakan ruang publik, akses serta pandangan yang tidak terhalang menuju danau.
Pembangunan, kata Hasto, tidak boleh hanya mengejar kepentingan hari ini dengan mengorbankan wajah kawasan pada masa depan.
“Pak Rapidin, kita bisa memikirkan imajinasi Samosir seratus tahun ke depan,” ujar Hasto.
Gagasan tersebut kemudian dikaitkan Hasto dengan pemikiran Bung Karno mengenai semesta berencana. Menurutnya, pembangunan tidak boleh berdiri sendiri.
Tata ruang harus mampu mempertemukan kebutuhan permukiman, pangan, lingkungan, rekreasi, kebudayaan dan ruang spiritual.
Dalam kerangka itu pula, Kantor DPC PDI Perjuangan Samosir harus ditempatkan. Hasto menegaskan kantor partai tidak boleh hanya menjadi bangunan administratif.
Kantor tersebut harus menjadi rumah rakyat, tempat konsolidasi politik, kaderisasi, pendidikan kepemimpinan, pengolahan aspirasi sekaligus ruang melahirkan keputusan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Hasto juga menekankan pentingnya kesadaran historis. Kantor itu berdiri di kawasan yang oleh UNESCO dipandang memiliki nilai geologi dunia.
Karena itu, kantor partai harus berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan pengetahuan lokal. Para kader dinilai perlu memahami arti penting Danau Toba bagi dunia sekaligus alasan warisan tersebut harus dijaga.
Hasto bahkan menyampaikan rencana mendaki Pusuk Buhit pada malam hari. Gunung tersebut memiliki kedudukan penting dalam mitologi Batak sebagai tempat yang berkaitan dengan asal-usul Si Raja Batak.
Bagi Hasto, mitologi bukan sekadar cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai mengenai asal-usul, moral, kebaikan, hubungan manusia dengan alam dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Di Pusuk Buhit, sejarah, mitologi dan spiritualitas bertemu.
Hasto kemudian menghubungkan hal itu dengan pemikiran Bung Karno saat merumuskan dasar negara. Dalam pidato 1 Juni 1945 tentang Pancasila, Bung Karno menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah satu fondasi kehidupan berbangsa.
Namun, ketuhanan tersebut bukan dasar untuk menguasai atau meniadakan kelompok lain.
“Tidak boleh ada egoisme agama. Tidak boleh ada yang merasa paling benar,” kata Hasto.
Indonesia, menurut dia, dibangun bukan untuk satu agama, satu etnis atau satu golongan. Republik merupakan ruang bersama.
Dari ketuhanan, pemikiran itu bergerak kepada kemanusiaan. Tidak boleh ada penindasan dan penghisapan.
Dari kemanusiaan lahir persaudaraan. Selanjutnya, dari persaudaraan, Indonesia ditempatkan Bung Karno sebagai bagian dari cita-cita dunia yang lebih luas.
Atas dasar itu, Hasto meminta Kantor DPC PDI Perjuangan Samosir tidak dibangun dengan watak elitis.
Bangunan partai harus memancarkan keberpihakan kepada rakyat kecil, mereka yang menghadapi ketidakadilan, mereka yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan, serta mereka yang suaranya kerap tidak terdengar.
Kantor partai, kata Hasto, harus menjadi tempat rakyat datang membawa persoalan.
Di sanalah gagasan marhaenisme yang diwariskan Bung Karno harus mendapatkan bentuk praktis. Politik tidak boleh berhenti pada perebutan kekuasaan, tetapi harus digunakan untuk membela mereka yang lemah dan memperjuangkan keadilan sosial.
Hasto juga menyinggung pentingnya kebebasan berserikat dan menyampaikan pendapat.
Perbedaan pandangan, menurutnya, semestinya tidak dipandang sebagai ancaman. Dalam tradisi politik PDI Perjuangan, perbedaan justru harus dikelola sebagai dinamika untuk menemukan gagasan yang lebih baik.
Republik Indonesia, katanya, lahir dari perbedaan pendapat yang dikelola dalam satu cita-cita kebangsaan.
Karena itu, peletakan batu pertama di Lumban Suhi-suhi bukan hanya perkara memulai pembangunan sebuah gedung.
Ada pekerjaan ideologis yang ikut diletakkan bersama batu pertama tersebut, yakni membangun kantor yang tidak berjarak dengan rakyat, membuka ruang pendidikan politik dan kepemimpinan, menjaga pengetahuan tentang sejarah kawasan serta menghubungkan cita-cita kebangsaan dengan kearifan lokal Samosir.
Menurut Hasto, Pusuk Buhit memberi lapisan spiritual, Danau Toba memberi konteks sejarah alam, warisan Batak memberi akar kebudayaan, sementara pemikiran Bung Karno memberikan arah ideologis.
Di antara semuanya, Kantor DPC PDI Perjuangan Samosir diharapkan tidak sekadar menjadi bangunan tempat partai bekerja.
"KIta dituntut menjadi rumah politik yang mengingat dari mana masyarakat berasal, memahami tempatnya hari ini, dan merancang ke mana Samosir hendak dibawa pada masa depan," ujarnya.**(Gb-ferndt01)

















