Notification

×

Iklan

Iklan

Dikejar Target Maret, Mampukah Pemprovsu Buka 10 Jembatan yang Isolasi Taput dan Tapteng?

27 Feb 2026 | 09:53 WIB Last Updated 2026-02-27T02:53:23Z

Pemprovsu melalui Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Basarin Yunus Tanjung dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumut melakukan Konferensi Pers terkait Perkembangan Penanganan Bencana Alam di Sumut yang difasilitasi Diskominfo Sumut di Kantor Gubsu Medan, (25/2- dokdiskominfoSU/gb)

GREENBERITA.com–Pemerintah mempercepat pembangunan 10 jembatan di wilayah terdampak banjir di Sumatera Utara guna memulihkan konektivitas dan menjamin distribusi logistik tetap berjalan. Hingga kini, delapan jembatan telah rampung, sementara satu jembatan kembali rusak akibat banjir susulan dan segera diperbaiki.


“Ada 10 jembatan yang sedang kita bangun bekerja sama dengan TNI, sekarang sudah siap delapan jembatan. Tapi karena terjadi peristiwa banjir kembali pada tanggal 11 dan 16 Februari yang lalu maka ada satu jembatan yang kembali bergeser dan mengalami kerusakan tapi akan kita perbaiki kembali,” ujar Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sumut Basarin Yunus Tanjung dalam temu pers yang diselenggarakan Dinas Kominfo Sumut di Lobby Dekranasda Sumut, Kantor Gubernur, Jalan Diponegoro, Medan, Rabu (25/2/2026).


Basarin yang juga Ketua Harian Satgas Penanganan Darurat Bencana Provinsi Sumut menjelaskan, wilayah dengan akses terbatas tersebut bukan terisolir. Wilayah itu masih dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua dan berjalan kaki. 


Namun, untuk kendaraan roda empat, akses baru dapat dilalui setelah dilakukan perbaikan jalan dan jembatan.

Berdasarkan data pembaruan Posko Darurat Bencana Sumut per 25 Februari 2026, wilayah dengan akses terbatas terdapat di dua kabupaten, yakni Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).


Di Taput, wilayah terdampak berada di dua kecamatan dan empat desa, yakni Kecamatan Sipaholon dan Parmonangan dengan Desa Rura Julu Tomuan, Pertengahan, Huta Tua, dan Huta Julu Parbalik. 


Sementara di Tapteng, wilayah dengan akses terbatas terdapat di Kecamatan Tukka dan Sibabangun, meliputi Desa Saur Manggita, Desa Sait Kalangan Dua, Desa Sigiring-giring, dan Desa Sibio-bio.


“Kita juga melakukan penggalian timbunan di sepanjang jalan desa tersebut dan jembatan yang rusak diperbaiki. Kalau cuaca mendukung ini bisa progresnya selesai pada bulan Maret nanti, kita harapkan cuaca mendukung,” kata Basarin.


Jembatan yang dibangun merupakan jembatan rampo, yakni model konstruksi berbahan besi yang dilengkapi plat untuk temboknya dan bagian atasnya ditimbun tanah. Pembangunan dilakukan bekerja sama dengan TNI, di mana material disiapkan Pemprov Sumut dan peralatan didukung TNI.


“Ini yang sedang kita bangun bekerjasama dengan TNI, di mana bahan materialnya dari Pemprov dan peralatannya dari TNI, mudah-mudahan nanti sudah bisa dilalui roda empat untuk mengangkut stok makanan,” ujar Basarin.


Menyusul banjir yang kembali terjadi pada 11 dan 16 Februari, Pemprov Sumut juga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi dampak lanjutan. 


Operasi dilaksanakan pada 18–21 Februari di dua titik, yakni Bandara Silangit dan Bandara Kualanamu, guna mencegah curah hujan terkonsentrasi di satu wilayah.


“Operasi modifikasi cauca ini sudah kita lakukan pada tanggal 18-21 Februari di dua titik yakni di Bandara Silangit dan Bandara Kualanamu, kita harapkan dengan operasi modifikasi cuaca ini untuk beberapa hari ke depan tidak terjadi lagi hujan di Tapteng,” ujar Basarin.


Dalam pemaparan data terkini kebencanaan Sumut, jumlah masyarakat terdampak tercatat sebanyak 479.047 KK atau 1.803.725 jiwa. Pengungsi berjumlah 909 KK atau 3.506 jiwa, meninggal dunia 376 jiwa, luka-luka 4 jiwa, dan hilang 40 jiwa.**(gb-ferndt01)