Notification

×

Iklan

Iklan

Menggali Mutiara Pancasila di Desa Gedangsewu, Kepala BPIP: Ada Ruh Pancasila

11 Mar 2019 | 19:21 WIB Last Updated 2019-11-10T13:37:51Z
KEDIRI,PANGURURAN.com - Pagi itu, sekitar pukul 10.00 wib, Minggu (10/3/2019) di Desa Gedangsewu Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur kedatangan tamu yakni Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia (BPIP RI) Prof Hariyono.

Hariono tidak sendiri, bersama rombongan mereka menyambangi komunitas Sanggar Bocah Dolanan (SangBodol) dan festival mural grafiti dengan tema "berkarya untuk bangsa" di desa tersebut dalam rangkaian menggali mutiara Pancasila.

"BPIP berharap budaya dan kegiatan di kampung adat kebangsaan dapat menginspirasi desa lainnya sehingga dapat menjadi wujud konkrit dalam pembentukan karaktet bangsa," ujar Hariyono dalam keterangannya.

Karenanya dia berpesan, wujudi gotong royong merupakan roh dari Pancasila, sehingga nilai-nilai pancasila juga dapat tersebar di masyarakat melalui komunitas di sanggar yang berdiri sejak tahun 2007 oleh Romo Kumo Nugroho (Alm), saat ini penasehatnya F.A Yunianto.

Setibanya mereka di desa itu disambut oleh Arlis selaku Dinas Kominfo Kab. Kediri dan Sony Subroto, sekretaris Badan Penelitian Pengembangan Daerah Kab. Kediri, dan Kepala Desa setempat Ruslan Abdul Gani, ketua dan pengurus Komunitas SangBodol Anto Beler, Apuel Hasbullah dan Yulia Suselo, serta anak-anak jalanan sebagai anggota SangBodol.

Ketua Komunitas SangBodol Anto Beler, mengatakan salah satu fungsi sanggar yang digawanginya adalah sebagai tempat penampungan Anak-anak jalanan yang tidak memiliki rumah.

"Melalui sanggar ini anak-anak dapat menikmati berbagai rutinitas yang mendidik seperti belajar menggambar (grafiti), mengenyam pendidikan formal, bermusik, mengikuti kursus (seperti las, jahit, dan lainnya," ucap Anto.

"Selain itu sanggar ini juga aktif menjadi Relawan diberbagai daerah Bencana. Mereka terbiasa  bergerak untuk melakukan penggalangan dana hingga membuat program yang menghibur masyarakat maupun anak-anak di daerah bencana," ungkapnya.

Sementara pengurus harian Hasbullah menambahkan ada suka dan duka ketika menjadi relawan, diantaranya ketika menjadi relawan, sanggar ini ikut menghibur anak-anak korban bencana, dapat membuat mereka tertawa bahagia.

"Sedangkan dukanya, kami sebagai relawan kemanusian juga sempat diisukan ingin melakukan kegiatan untuk memasukkan nilai-nilai agama tertentu kepada korban bencana.  Padahal tim sanggar kami adalah orang dari berbagai lintas agama.
ada Muslim, Kristen, Hindu semua berbaur menjadi satu tim," ungkapnya.

Selain memiliki sanggar SangBodol kata dia Desa Gedangsewu juga memiliki kehidupan masyarakat yang dinamis dan suka bergotong royong. Kehidupan antar warga tampak sangat rukun dan toleran. Meski mayoritas muslim, namun hidup rukun dan toleran dengan warga desa lainnya yang berbeda keyakinan.

"masyarakat disekitar itu bekerja sebagai petani lalu diikuti dengan berbagai profesi lainnya seperti, pedagang dan peternak. Keunggulan lainnya dari desa ini adalah sebagai salah satu produsen kayu dan triplek," papar dia.

Desa itu juga memiliki kampung kerajinan yang dikenal sebagai pengerajin kandang ayam dan sepatu kulit tepatnya di Dusun Parerejo.

Kepala Desa Gedangsewu, Rusdal Abdul Gani berharap desanya bersih dari Narkoba dan warganya sehat senantiasa, karena itu moto di desa itu "sehat itu murah sakit itu mahal".
(rel)