Notification

×

Iklan

Iklan

Patik Pasampulusadahon: Hukum Kesebelas

29 Nov 2018 | 10:27 WIB Last Updated 2019-11-10T13:59:01Z
Sebastian Hutabarat
GREENBERITA.com - Di setiap tempat, cerita atau kisah yang kita pernah dengar dari Bible perihal hukum atau titah yang diberikan Tuhan Allah kepada Bangsa Israel lewat Musa   hanyalah 10.

Akan tetapi oleh Tulang Pardede ini, dikisahkan, Hukum Tuhan bagi Orang Batak sebenarnya ada sebelas.

Bagaimana ceritanya, dan siapakah Tulang Pardede ini?

Namanya Ir Mangatur Pardede. Lahir, sekitar  80 tahun lalu di Balige. Akhir tahun 1950 an, setamat SMA di Medan, Ia melanjutkan studi ke Rusia.

Pulangnya, ia bekerja beberapa tahun memimpin pembangunan Hotel Danau Toba dan aneka proyek TD Pardede di Medan sebelum akhirnya diminta bergabung oleh BJ Habibie hingga di akhir karirnya pernah menjadi salah satu direktur di IPTN Nurtanio Bandung.

Ia juga yang diminta oleh BJ Habibie sebagai salah satu otak atau pemikir lahirnya Otorita Batam.

Saya mengenalnya 23 tahun lalu, sejak memilih pulang ke Balige. Tulang ini juga sering pulang dan membuat beberapa usaha di tempat kelahirannya. 

Sayangnya hampir semua usaha yang dia buat berhenti di tengah jalan.

Tentu saja dia sangat kesal. Hingga dengan jenakanya, pernah Ia bilang kalau mau pulang dan bertarung di Balige, nyawanya harus minimal dua.

Loh kenapa begitu?

Karena yang satu sudah pasti lewat dan habis dimangsa bangsa sendiri. Begitu ia menggambarkan aneka usaha yang dia rintis dan putus tak berbekas.

Semua ilmu yang dia dapat di Rusia, pengalaman kerja di beberapa jabatan penting seperti tak cukup untuk ia terapkan di tanah kelahirannya.

Tetapi ia selalu punya cara sederhana untuk menikmati dan menjalani hidup. 

Sangking sederhananya, pada suatu waktu, seorang sopir setelah bertahun tahun berteman dan bercerita, termasuk soal perjalanan Tran's Sumatera  yang kerap ia lakukan, pernah berkata ke Tulang Mangatur ini :

"Ai sai na hurimpu do ho Supir" (Yang kukiranya kau sopir-red).

Tapi ia sangat enjoy menceritakan kisah-kisah konyol itu.

Setiap bertemu, ada saja hal hal menarik yang ia ceritakan dan kami diskusikan.

Tadi malam, ia sengaja mengundang Tulang Parlin Sianipar. 

Alumni ITB, mantan pejabat di Pengairan yang sejak beberapa tahun belakangan ini  'terjebak' untuk tinggal di tempat kelahirannya di Desa Sianipar Balige.

Dengan cara bercerita dan cara mengisi hidup yang berbeda, tetapi dilatar belakangi keprihatinan mendalam perihal perilaku keluarga dan saudara kita yang tinggal di Bona Pasogit (Tanah Kelahiran).

Tadi malam kami bercerita dari jam 9 hingga jam 01 dinihari.

Berbagai kisah kami diskusikan termasuk parahnya kinerja pejabat di kampung halaman kita ini, yang dimulai dengan tingginya cost politik jadi Bupati yang berujung pada aneka korupsi dan aneka kegiatan berbiaya tinggi lainnya.

Kisah menarik dan memprihatinkan lainnya adalah tentang lahirnya hukum kesebelas ini.

Saat anak anak Tulang ini masih kecil, ia kerap membawa mereka pulang ke kampung mereka di Pardede Onan Balige.

Tulang ini berharap anak anak mereka tahu dan mencintai tanah kelahiran leluhur mereka.

Suatu waktu anak anak Tulang ini mengeluh.

"Ah, kampung Bapak ini parah banget,  kemarin ember yang kita bawa hilang di tempat permandian. Barusan, sendal kami yang hilang dari pekarangan rumah," keluh anak-anak nya.

Ikut berkalikali merasa konyol dengan aneka  kejadian serupa di kampungnya yang tentu saja membuat hati sangat kesal, Tulang ini berkata begini,

"Nak, bersyukurlah engkau, Bapak bisa  merantau dan tidak tinggal di kampung ini. Kalau Bapakmu ini tinggal disini, kaulah anak pencuri sendal itu, atau kaulah pencurinya, " ujar sang Bapak sambil tertawa.

Si Anak, hanya geleng geleng kepala dan sejak itu enggan setiap dengar kata pulang kampung.

Tentu saja kejadian itu, dan aneka usaha yang semuanya bangkrut itu menjadi kisah yang sangat tidak enak untuk hanya sekedar diingat.

Dan saya percaya, kalau kita mau jujur, puluhan bahkan ratusan kisah konyol lainnya sangat banyak yang dialami oleh kita orang Batak di kampung halamannya sehingga membuat banyak orang menjadi kapok,  bahkan tidak enak hati hanya mendengar kampung leluhur mereka.

Hampir 90 persen orang Batak ada di tanah rantau. Tapi yang selama ini mau pulang, mayoritas dari kalangan yang gagal meskipun ada juga yang berhasil.

Belum banyak yang mampu menunjukkan bahwa di Tanah Batak yang katanya hebat Ini, kita bisa hidup dengan benar tanpa mencuri.

Ah, Sebegitu parahkah?

Pasti banyak yang tidak setuju, tapi saya sendiri berkali kali harus mengakui bagaimana ditipu, dibohongi oleh teman, saudara dan keluarga sendiri.

Terhadap cerita cerita penipuan termasuk pencurian toko kaos kami yang membuat kami ludes hampir 100 juta itulah lahir titah pasampulusadahon itu.

Tulang ini berkata :

"Berbahagilah engkau, kalau engkau kecurian, dan BUKAN bagian dari pencurinya."

Lanjutnya, sembari bermohon agar Tuhan selalu memberkatimu selalu dan memberkati para pencuri itu supaya kalau Tuhan memberkati mereka sepertimu,  mereka tidak lagi jadi pencuri.

Bagi saya pribadi, cara jenaka seperti yang dikisahkan Tulang ini sangat diperlukan dan cukup jitu saya terapkan sebagai modal untuk belajar bertahan menjadi domba di tengah kawanan serigala.

Catatan Sebastian Hutabarat
(Penulis adalah aktivis lingkungan kawasan danau toba dan enterpreneurship)