Notification

×

Iklan

Iklan

Surplus Beras Sumut Tembus 27.633 Ton, Pemprov Genjot Kawasan Pertanian Unggulan

23 Okt 2026 | 18:16 WIB Last Updated 2026-10-23T11:16:36Z

Kadis Pertanian dan Ketapang Sumut Fariz Haholongan Hutagalung menyampaika
Produksi beras Sumut pada Oktober 2026 lampaui kebutuhan daerah hingga mencatat surplus 27.633 ton dan terus perkuat produktivitas pertanian melalui pengembangan kawasan unggulan untuk menjaga ketahanan pangan, (23/10- fando/gb)
GREENBERITA.com- Produksi beras Sumatera Utara (Sumut) pada Oktober 2026 melampaui kebutuhan daerah hingga mencatat surplus 27.633 ton. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut pun terus memperkuat produktivitas pertanian melalui pengembangan kawasan unggulan untuk menjaga ketahanan pangan.


Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut Fariz Haholongan Hutagalung menyampaikan capaian tersebut dalam temu pers yang diselenggarakan Dinas Kominfo Sumut di Lobby Dekranasda Sumut, Kantor Gubernur, Jalan Diponegoro, Medan, Jumat (23/10/2026).


“Kebutuhan beras Oktober sebesar 116.433 ton. Produksi beras sekitar 144.066 ton,” kata Fariz.


Selain beras, sejumlah komoditas hortikultura juga mencatat surplus produksi. Cabai merah mencapai 14.213 ton, sementara kebutuhannya 9.855 ton. Produksi cabai rawit mencapai 7.594 ton dengan kebutuhan 3.712 ton.


Sementara itu, produksi bawang merah setara umbi basah mencapai 5.021 ton atau 3.306 ton dalam kondisi kering, masih di bawah kebutuhan yang mencapai 5.353 ton.


Pada sektor peternakan, produksi daging sapi tercatat 1.773 ton dengan kebutuhan 891 ton. Produksi daging ayam ras mencapai 20.383 ton dari kebutuhan 16.037 ton, sedangkan telur ayam ras mencapai 53.810 ton dengan kebutuhan 20.491 ton.


“Untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian, Pemprov Sumut melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan pun melakukan intervensi. Intervensi ini masuk ke dalam bagian Program Strategis Daerah (PSD),” kata Fariz.


Melalui program tersebut, Pemprov Sumut mengembangkan kawasan pertanian terpadu untuk komoditas padi, jagung, cabai merah, bawang merah, sapi potong, serta rumah produksi kelapa dan kopi.


Pengembangan dilakukan dalam satu hamparan yang dikelola satu kelompok tani, dilengkapi paket bantuan penuh dan kemitraan badan usaha milik daerah (BUMD) sebagai offtaker atau penyerap hasil produksi.


Untuk kawasan padi, terdapat 10 kawasan dengan total luas 300 hektare. Panen telah berlangsung di lahan seluas 44,5 hektare dengan produksi mencapai 327,95 ton.


Kawasan jagung mencakup 13 kawasan dengan luas 260 hektare. Dari luasan tersebut, panen telah dilakukan di 43 hektare dengan produksi mencapai 345,6 ton.


“Kawasan cabai merah terdiri dari 15 kawasan seluas 60 hektare. Enam kawasan seluas 24 hektare sudah panen dengan produksi 264 ton, kawasan bawang merah terdiri dari 16 kawasan seluas 48 hektare. Enam kawasan seluas 18 hektare sudah panen dengan produksi 299,4 ton,” papar Fariz.


Adapun pengembangan kawasan sapi potong di empat daerah, yakni Simalungun, Serdangbedagai, Asahan, dan Batubara, masih dalam tahap konstruksi. Pembangunan ditargetkan rampung pada minggu pertama Desember 2026.


Kawasan tersebut direncanakan menerima sekitar 150 ekor sapi, terdiri dari 120 ekor untuk penggemukan dan 30 ekor untuk pengembangbiakan.


Sementara itu, pembangunan rumah produksi kelapa di Nias Utara telah mencapai progres 80% dan ditargetkan selesai pada 6 November 2026.


Pemprov Sumut juga mengembangkan tiga rumah produksi kopi, masing-masing satu di Humbang Hasundutan dan dua di Tapanuli Utara, yang ditargetkan rampung pada November 2026.


Pengembangan berbagai kawasan pertanian terpadu tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas komoditas unggulan, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumut.**(Gb-fando01)