Notification

×

Iklan

Iklan

Diduga Ada Distorsi Informasi Oknum Wartawan, Kadis P3AP2KB Samosir Bantah Pernah Bicara Soal Ekonomi Korban

1 Apr 2026 | 14:40 WIB Last Updated 2026-04-01T07:40:14Z

Kadis P3AP2KB Samosir Kunjungi Keluarga Korban Gantung Diri, Status Ekonomi Keluarga Tak Pernah Disampaikan ke Publik (01/4- photo ist/gb)

GREENBERITA.com–Di tengah sorotan publik atas kematian tragis seorang pelajar SMA di Simanindo yang nekat gantung diri, muncul dugaan distorsi informasi yang menyeret status ekonomi keluarga korban. 


Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Samosir, dr. Friska Situmorang, membantah keras pernah memberikan keterangan kepada pihak yang mengaitkan faktor ekonomi dengan peristiwa tersebut, sehingga membuka ruang pertanyaan soal validitas narasi yang telanjur beredar.


Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Samosir, dr. Friska Situmorang sebelumnya mengunjungi rumah duka pelajar yang meninggal dunia akibat gantung diri.


Kunjungan tersebut dikatakannya dilakukan sebagai bentuk empati sekaligus memastikan kondisi keluarga korban pascakejadian tragis yang menyita perhatian publik tersebut.


Namun, dalam keterangannya, dr. Friska Situmorang, kepada wartawan pada Rabu (1/4/2026) menegaskan, tidak pernah menyampaikan kepada wartawan terkait status ekonomi keluarga korban.


"Kehadiran kita murni sebagai bentuk empati, karena korban anak sekolah," tegasnya.


Pernyataan itu menjadi titik penting setelah beredarnya narasi di media sosial yang menyebut faktor ekonomi keluarga korban sempat dibantah oleh pihak dinas. Saat dikonfirmasi mengenai keberadaan wartawan saat kunjungannya ke rumah duka, dr. Friska memastikan tidak ada satu pun wartawan di lokasi.


Ia menegaskan, seluruh keterangan yang disampaikan kepada wartawan hanya melalui sambungan telepon, bukan dalam konteks wawancara langsung di rumah korban.


Bahkan ia menekankan, tak pernah menyampaikan informasi terkait status ekonomi keluarga korban kepada wartawan. 


"Saya tidak dalam kapasitas itu, tapi kehadiran kita dari perlindungan anak," ungkap dia.


Penegasan tersebut disampaikannya karena Dinas P3AP2KB tidak memiliki kewenangan menyimpulkan latar belakang ekonomi keluarga sebagai penyebab utama kejadian.


Dijelaskannya, Dinas P3AP2KB tidak dalam kapasitas menyimpulkan faktor ekonomi keluarga korban menjadi penyebab utama kejadian tersebut.


"Saya tegaskan kehadiran kami murni merupakan empati," sebutnya lagi.


Sebelumnya, beredar informasi bahwa sejumlah oknum mengaku wartawan menuliskan di media sosial, bahwa Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Samosir Friska Situmorang membantah bahwa meninggalnya pelajar SMA Negeri 1 Simanindo (PJS) tidak karena faktor ekonomi.


Narasi yang beredar itu kini justru memunculkan pertanyaan baru mengenai proses verifikasi informasi sebelum dipublikasikan.


Tindakan oknum wartawan yang dinilai tidak bertanggungjawab itu patut dipertanyakan, karena Kadis P3AP2KB Samosir mengatakan tak pernah dikonfirmasi dan memberikan informasi kepada orang orang yang mengaku wartawan itu, terkait status ekonomi keluarga korban.


Terpisah, Robin Nainggolan sebagai salah satu jurnalis senior dan bersertifikasi, kepada Greenberita mengatakan, seluruh stakeholder di Kabupaten Samosir perlu berhati-hati dengan oknum oknum yang mengaku ngaku wartawan.


"Selain informasi yang disampaikan jurnalis harus terverifikasi dengan konfirmasi kepada narasumber, juga diperlukan seorang jurnalis menjaga etika antar sesama jurnalis," tegas Robin.


Robin menilai persoalan ini harus menjadi alarm bagi semua pihak agar informasi sensitif terkait kasus anak tidak dipelintir menjadi opini liar yang berpotensi menyesatkan publik.


Agar tidak muncul persoalan seperti ini, Robin Nainggolan menegaskan perlunya jurnalis mengikuti sertifikasi wartawan melalui uji kompetensi wartawan (UKW) dari Dewan Pers.**(Gb-ferndt01)