Notification

×

Iklan

Iklan

Aksi Hijau di Tele Samosir, Rapidin Simbolon dan Pastor Kompak Pulihkan Hutan Danau Toba

28 Mar 2026 | 18:29 WIB Last Updated 2026-03-28T11:29:06Z

Anggota DPR RI Rapidin Simbolon Gaungkan Pemulihan Hutan Danau Toba bersama Pastor dan AMAN Tano Batak (28/3- Ferndt/gb)

GREENBERITA.com–Upaya pemulihan hutan di kawasan Danau Toba kembali digelorakan melalui aksi penanaman pohon yang melibatkan tokoh nasional, pemuka agama, hingga masyarakat adat di Kabupaten Samosir.


Anggota DPR RI Rapidin Simbolon melakukan penanaman pohon bersama para pastor di kawasan Danau Toba, tepatnya di Desa Partungko Naginjang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sabtu (28/3/2026).


Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendorong pemulihan hutan yang mengalami kerusakan, sekaligus mengembalikan fungsi ekologis kawasan sebagai daerah tangkapan air Danau Toba.


Penanaman pohon tersebut diinisiasi oleh JPIC Keuskupan Agung Medan yang dipimpin Pastor Walden Sitanggang OFM Cap, dengan melibatkan lembaga adat setempat, Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Tano Batak, tokoh masyarakat, pegiat lingkungan, serta warga setempat.


Keterlibatan lembaga adat dan AMAN Tano Batak menjadi bagian penting dalam memastikan upaya pemulihan hutan berjalan selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal serta perlindungan wilayah adat di kawasan Danau Toba.


Rapidin Simbolon yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara ini mengatakan gerakan penanaman pohon ini merupakan langkah nyata dalam menjaga kelestarian alam, khususnya di kawasan strategis Danau Toba yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat.


“Ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi bagian dari tanggung jawab kita bersama untuk memulihkan alam yang telah rusak,” ujarnya.


Bersama Kapolres Samosir AKBP Rina Tarigan yang turut hadir pada kegiatan tersebut, Rapidin Simbolon mengapresiasi peran para pastor, Keuskupan Agung Medan, serta masyarakat adat dan AMAN yang dinilai konsisten mendorong gerakan pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan ekologis.


Menurut Rapidin, kolaborasi antara tokoh agama, masyarakat adat, pemerintah, dan masyarakat umum menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan Danau Toba.


“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kebersamaan agar upaya pemulihan ini benar-benar berdampak,” katanya.


Selain melakukan penanaman, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan keberlangsungan hidup generasi mendatang.


Sementara itu, Pastor Walden Sitanggang menegaskan bahwa keterlibatan gereja dalam gerakan lingkungan merupakan bagian dari panggilan moral untuk menjaga keutuhan ciptaan.


“Kami ingin menanam bukan hanya pohon, tetapi juga kesadaran bahwa alam harus dijaga bersama,” ujarnya.


Ia berharap gerakan ini dapat menjadi contoh bagi berbagai pihak untuk ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan Danau Toba yang saat ini menghadapi berbagai tantangan ekologis.


Kegiatan penanaman pohon berlangsung dengan penuh kebersamaan, melibatkan berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap masa depan lingkungan di Tanah Batak.**(Gb-ferndt01)