Orang Tua Ririn Akui Ada Luka Memar Dibelakang Tubuh Korban -->

VIDEO

Orang Tua Ririn Akui Ada Luka Memar Dibelakang Tubuh Korban

Kamis, 25 Juli 2019

Orangtua Korban, Antonius Manik Akui Ada Luka Memar Dibelakang Tubuh Putrinya, Ririn Manik
SAMOSIR, GREENBERITA. com - Nasib tragis harus diterima seorang anak dibawah umur karena tewas tertimbun tanah ketika bekerja dalam penggalian bebukitan untuk bahan baku pembuatan Batu Bata di Huta Siambalo, Desa Hutanamora, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Pada Rabu, (24/7/2019).

Korban tewas bernama Ririn Br. Manik (15) sehari-harinya adalah seorang siswa kelas 2 (dua) SMP Negeri Satu Atap,  Desa Rianiate, Pangururan, Samosir.

Kejadian bermula sekira jam 16 Wib,  (24/7) ketika Ririn yang sehabis pulang sekolah diminta ikut bekerja menggali tanah bebukitan yang dikelola seorang pengusaha Batu Bata berinisial FL yang berasal dari Kepulauan Nias.

Orang tua korban mengaku ada luka memar yang tidak lazim ditubuh belakang korban.

Pengakuan itu disampaikan orang tua korban Antonius Manik (50) ketika dikonfirmasi greenberita.com di Huta Sitikotiko, Desa Parmonangan, Kacamata Pangururan, Samosir.

"Memang sewaktu jenazah putri saya sampai rumah, saya periksa punggung belakangnya ada luka masasak (memar) dan tergores seperti di licing (dicambuk) seperti itu, saya kurang tau jelasnya, hanya saya mandikan boru saya itu, " jelas Manik.

Ketika ditanya apakah itu akibat penganiayaan, Antonius Manik tidak dapat memastikannya.

Ditempat yang sama, salah satu kerabat keluarga korban menyesalkan tidak segera membawa korban ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

"Saya menyesalkan pihak pengusaha batu bata tidak segera membawa anak itu ke puskesmas atua rumah sakit Hadrianus supaya segera mendapat pertolongan pertama sehingga nyawanya dapat diselamatkan," ujar H.Gultom, salah satu kerabat keluarga korban.

Saksikan Video Pengakuan Orangtua Korban, Ririn Manik
Gultom juga sangat mengherankan tersedianya fasilitas ambulans untuk membawa korban yang sudah tewas ke rumah korban di Desa Parmonangan.
"Herannya saya, kenapa ada ambulans membawa korban yang sudah jadi mayrt, kenapa waktu masih hidup tidak segera ditolong," tanyanya heran.

(gb-ferndt)

Loading...