Notification

×

Iklan

Iklan

Faham Kolonialisme, Komunisme dan Nasionalisme

2 Feb 2019 | 16:57 WIB Last Updated 2019-11-10T13:59:02Z

GREENBERITA.com

Oleh Sebastian Hutabarat

Mendengar dua dari tiga kata diatas, sering menimbulkan rasa geram, marah, dan benci dihati. Sekalipun kalau jujur, berapa banyakkah diantara kita yang benar benar paham arti ketiga kata itu?

Ketika mendarat di Kuala Lumpur untuk memulai perjalanan "Menilik Wisata Negara Tetangga" ini, (9'1/2019) lalu, topik diskusi kami sudah bersinggungan dengan itu.

Sebagai salah seorang warga Malaysia, yang merupakan Kolonialisme Inggris, Pak Abdul Rashid cukup heran, manakala di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Balige, yang adalah Kolonialisme Belanda, ada beberapa orang yang dengan bangga dan dengan segala resikonya masih tetap sabar merawat Land Rover produksi Inggris itu.

Perjalanan kamipun berlanjut ke Thailand, dan Laos.

Perjalanan dua hari naik kapal menyuri sungai Mekong hingga akhirnya tiba di Luang Prabang Laos, yang cukup lama menjadi Koloni Prancis.

Bahkan kamar tempat kami menginap 2 hari di Luang Prabangpun, dengan kayu besar besar dan sangat artistik itupun sepertinya masih peninggalan Kolonial Prancis.

Suka tidak suka dengan Kolonialisme, tapi apa yang kami lihat di beberapa negara tetangga kita ini, adalah buah karya kolonialisme yang populer di era abad ke 18.

Tetapi ketika kita hanya belajar lewat buku pelajaran sekolah, betapa jahatnya kolonialisme ini.

Dan betapa dengan bangganya kita dengan kemerdekaan yang sudah kita raih.

Tapi jika mau berani kritis bertanya, sebemarnya yang merdeka itu siapa?

Ah, kalau kami bertanya seperti anda, bisa bisa saya dijebloskan ke Penjara kata Pang, kawan satu  bus dalam perjalanan 13 jam naik bus dari Luang Prabang ke Vientiene, Ibu kota negara Laos ini.

Setelah menahan kantuk dan lelah, Simon Tobing menjemput kami di North Bus Station  Laos, dan langsung membawa kami menikmati makanan super enak untuk para expatriat di Laos, di tepian sungai Mekong.


Di lapangan tempat orang Laos kini menikmati night market, berkibar dua bendera utama di Laos. Satu bendera kebangsaan mereka dan satu lagi bendera yang membuat bulu kuduknmerinding, bendera merah berlambang palu arit dan martil, yang tak lain adalah bendera komunis.

Ya, komunis, partai merekalah pemenang disini, sehingga walaupum masih banyak kuil sebagai tempat beribadah mereka, tapi mayoritas mereka, menganut paham komunis.

Komunis bukan tidak percaya Tuhan Bang, komunis itu, paham sosialis.

Ah, saya masih harus banyak belajar ternyata, betapa mengerikannya, penilaian dan penghakiman yang saya anut selama ini hanya karena informasi yang juga keliru saya dapatkan sejak masih kecil.

Yang memandang komunis sebagai setan paling jahat dan mengerikan. Demikian juga dengan kolonialisme.

Akhirnya, sejak tadi malam, ketika terbangun tidur, saya lagi lagi coba baca tentang paham kolonialisme yang dulu maknanya begitu negatif saya dapat ketika masih sekolah.

Lalu soal Nasionalisme??

Saya kira sama saja, hampir semua isme isme itu hanyalah propaganda dan alat jualan politik penguasa dan orang yang ingin berkuasa.

Pada kenyataannnya, semua isme itu, hanya memperkaya segelintir elit, baik itu Kolonialisme, kapitalisme, Komunisme dan yang katanya Nasionalisme.

Nasionaisme di Negeri tercintapun, ternyata banyak yang hanya menjadi jargon dan alat politik saja.

Pada kenyataannya, mereka, para elit politik itu, masih tega memperkaya diri dengan kekayaan tidak terhingga dan membiarkan banyak rakyatnya menderita.

Itu juga yang saya saksikan di beberapa negera tetangga termasuk Laos yang berpaham komunisme ini.

Rakyatnya bangkit dengan segala kegiatan bisnisnya, expat bekerja dan sejahtera, bayar pajak ke negara, tapi hasil pajak dan kekayaan alam yang seogyanya untuk kesejahteraan rakyatnya itu hanya dinikmati segelintir elit politik dan penguasa saja.

Lalu apa paham yang saya terima dan setujui??

Kolonialisme.

Tapi bukan kolonialisme yang dipakai untuk mengambil kekayaan daerah yang dikolon.

Tapi sebagai bentuk menghadirkan koloni sorga di bumi.

Bukankah Tuhan, ketika menciptakan manusia, setelah menciptakan alam semesta dan segala isinya, juga sebenarnya sedang mengirimkan bentuk koloni sorga di bumi dengan manusia Adam sebagai potraitnya untuk berkuasa atas alam dan segala isinya?


Tapi potrait yang rusak itu kemudian merusak seluruh alam dan ciptaanNYa semula yang serba sempurna.

Dan proses pemulihan koloni itu, diajarkan kembali dalam kutipan doa yang diajarkan Yesus.

Jadilah kehendakMU di bumi, seperti di sorga.

Bukankah itu juga dalam proses ingin menulihkan koloni sorga di bumi dengan pemerintahan tertinggi pada manusia yang serupa dan segambar dengan DIA?

Akan tetapi, konsep kemerdekaan, konsep demokrasi yang telah lama kita anut,membuat kita berpikir bahwa mayoritas dan suara terbanyaklah yang menjadi suara kebenaran.

Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Ah, rakyat yang mana, Tuhan yang mana?

Atau, kita adalah Agama mayoritas.

Agama yang mana?  Dan Tuhan yang mana yang punya Agama??

Akhirnya, sebelum pusing, sebelum berani murtad dan mengalami kemerdekaan yang sesunggujnya, marilah kita kembali belajar melihat dengan HATI yang jujur, betapa semua isme isme yang kita terima selama ini sudah banyak yang rontok dan terbukti selama ini hanya dipakai sebagai alat politik bagi para penguasa.

Datanglah KerajaanMU

Jadilah KehedakMU di bumi, seperti di sorga.

Vientiane, 2 Februari 2019