Notification

×

Iklan

Iklan

Dahsyat! 127 Kali Cuaca Ekstrem Hantam Sumut, BPBD: Tingkatkan Mitigasi dan Kesiapsiagaan

4 Sep 2026 | 14:11 WIB Last Updated 2026-09-04T07:11:18Z

Pemprov Sumut melalui BPBD melakukan Konferensi Pers terkait kesiapsiagaan bencana di Sumut yang difasilitasi Diskominfosu di Kantor Gubsu, Medan, Jumat (4/9- Ferndt/gb)
GREENBERITA.com- Ancaman bencana hidrometeorologi masih membayangi sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut). Hingga 4 September 2026, cuaca ekstrem tercatat menjadi bencana paling sering terjadi dengan 127 kejadian.


Data tersebut disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumut Tuahta Ramajaya Saragih dalam Temu Pers yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sumut di Lobby Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30, Medan, Jumat (4/9/2026).


Berdasarkan peta risiko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sumut memiliki 14 jenis potensi kejadian bencana. Selain cuaca ekstrem, bencana yang dominan terjadi sepanjang 2026 yakni tanah longsor, banjir, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).


"Hasil rekapitulasi kami dari 1 Januari hingga 4 September 2026, bencana yang paling sering terjadi adalah cuaca ekstrem sebanyak 127 kali, termasuk angin puting beliung dan kekeringan. Kemudian diikuti tanah longsor 86 kali, banjir 73 kali, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 46 kali," ujar Tuahta.


Mengantisipasi tingginya risiko tersebut, Gubernur Sumut Bobby Nasution menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 188.54/8/INST/2026 tentang Peringatan Dini Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi Basah dan Kering di Provinsi Sumut Tahun 2026.


Instruksi tersebut menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan, khususnya menghadapi ancaman karhutla di sejumlah wilayah rawan.


Tuahta mengatakan, wilayah yang mendapat perhatian antara lain Samosir, Padang Lawas, Simalungun, dan Labuhanbatu.


Hingga akhir Agustus 2026, luas lahan terbakar di Sumut mencapai 273,87 hektare yang tersebar di 14 kabupaten/kota. Kondisi ini membuat BPBD Sumut terus memperkuat pengawasan dan penanganan di daerah dengan tingkat kerawanan tinggi.


"Meskipun posisi karhutla Sumut berada di peringkat 8 atau 9 secara nasional, bukan berarti kita bisa lengah. Kita sudah menempatkan personel dan peralatan pendamping di Samosir untuk memback-up BPBD setempat," jelasnya.


Untuk mendukung penanganan bencana, BPBD Sumut mengalokasikan pemeliharaan rutin serta pengadaan armada secara bertahap setiap tahun. Penguatan peralatan operasional juga dilakukan untuk menghadapi kondisi darurat.


BPBD Sumut juga siap mendampingi pemerintah kabupaten/kota dalam penanganan bencana, mulai dari proses evakuasi, penyediaan logistik, hingga penyaluran Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) apabila kondisi darurat telah ditetapkan.


Tak hanya berfokus pada penanganan ketika bencana terjadi, BPBD Sumut memperkuat mitigasi pra-bencana. Upaya tersebut dilakukan melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada pelajar dan masyarakat serta penyusunan berbagai dokumen strategis kesiapsiagaan.


"Kami menyusun Kajian Risiko Bencana (KRB), Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), serta Rencana Kontinjensi (Renkon). Renkon karhutla dan gempa bumi sudah berjalan, dan saat ini kami sedang menyiapkan Renkon untuk bencana banjir," kata Tuahta.


BPBD Sumut juga membuka ruang edukasi publik di kantor BPBD bagi organisasi maupun kelompok masyarakat yang ingin mempelajari langkah-langkah evakuasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.**(Gb-ferndt01)