Notification

×

Iklan

Iklan

Wagubsu Surya Minta Industri Sawit Tak Hanya Kejar Untung, Ada Pesan Keras soal Lingkungan

20 Mei 2026 | 14:00 WIB Last Updated 2026-05-20T07:15:28Z

Wagub Sumut Surya didampingi Bupati Serdangbedagai Dharma Wijaya dan Wabup Labuhanbatu Utara Samsul Tanjung membuka acara Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (Scopex) 2026 di Hotel Adimulia Medan, (19/5- dokdiskominfoSU/gb)
GREENBERITA.com- Industri kelapa sawit di Sumatera Utara dinilai harus bergerak lebih maju dengan mengedepankan riset, inovasi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. 


Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya bahkan menyinggung perubahan besar kultur sosial di lingkungan perkebunan sawit yang menurutnya kini semakin terbuka dan harmonis.


Hal itu disampaikan Surya saat membuka acara Scopex 2026 di Hotel Adimulia Medan, Selasa (19/5/2026). Dalam sambutannya, Surya menegaskan bahwa industri sawit tidak cukup hanya kuat dari sisi ekonomi, tetapi juga wajib memberi dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.


“Tidak boleh berhenti di laboratorium atau ruang diskusi saja, tetapi harus mampu diterapkan secara nyata, membantu petani, meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, memperkuat daya saing, serta menjaga keberlangsungan lingkungan hidup,” kata Surya.


Pada kesempatan tersebut, Surya juga mengenang masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan perkebunan sawit di Pulau Raja, Kabupaten Asahan. Ia menceritakan bagaimana kultur sosial di perkebunan pada masa lalu sangat berbeda dibanding saat ini.


Pulau Raja, menurut Surya, merupakan lokasi pertama penanaman kelapa sawit di Sumatera Utara oleh perusahaan asal Jerman dan Belgia.


“Saya masih ingat waktu SD kami disuruh hormati pohon kelapa sawit pertama, bahkan kami disuruh izin kalau lewat di depannya, ‘Misi Mbah’ gitu. Dulu kasta sosial di masyarakat juga sangat kental, staf tidak boleh ketemu manajer, kalau orang PT pesta kita tidak boleh lewat. Tetapi sekarang jauh berubah, semua semakin baik, tidak ada batas antara masyarakat dan perusahaan, staf dengan PT. Itulah perubahan positif yang terus kita harapkan,” ujar Surya.


Menurut Surya, seluruh pemangku kepentingan di sektor perkebunan sawit harus menjadikan kesejahteraan rakyat dan pelestarian lingkungan sebagai prioritas utama.


“Kita sebagai pemangku kepentingan, hal yang utama adalah kesejahteraan rakyat. Perusahaan juga punya tanggung jawab itu, bersama pemerintah menjaga lingkungan,” jelasnya.


Sementara itu, Ketua Panitia Scopex 2026 Indra Syahputra menyebut produksi kelapa sawit Sumut saat ini mencapai sekitar 2 juta ton per tahun. Produktivitas perusahaan, kata dia, rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare, sedangkan petani sekitar 2,5 ton per hektare.


“Bila kita ingin meningkatkan produksi kelapa sawit tanpa menambah lahan, kita harus menggunakan bibit yang benar, tanam di tempat yang benar, dan mengelola dengan benar. Oleh karena itu, kita ada di sini untuk berdiskusi dan menemukan solusi bagi tantangan perkebunan sawit saat ini,” kata Indra.


Acara Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (Scopex) 2026 turut dihadiri Principal Director Socfindo Harold Williams, Bupati Serdangbedagai Darma Wijaya, Wakil Bupati Labuhanbatu Utara Samsul Tanjung, OPD terkait Pemprov Sumut, serta lebih dari 500 peserta dari kalangan pelaku usaha, akademisi, dan inovator Indonesia maupun Malaysia.**(Gb-ferndt01)