Notification

×

Iklan

Iklan

Hari Guru : Guru Harus Menjadi Inspirasi dan Role Model (3)

25 Nov 2018 | 15:18 WIB Last Updated 2019-11-10T13:31:01Z
Juita Panjaitan
Bagi Juita Panjaitan, cewek yang menimba ilmu di FKIP Universitas HKBP Nommensen Prodi Fisika, peringatan hari guru tak cukup dilakukan dengan peringatan seremonial belaka, apalagi cuma ritual potong kue dan selfie ria. Bagi mahasiswi yang aktif di GMKI Siantar-Simalungun, itu guru harus menjadi sumber inspirasi dan role model bagi siswa.  Ini pandangannya.

Inspirasi adalah segala sesuatu yang dapat mendorong dan merangsang pikiran untuk memunculkan ide dan gagasan maupun melakukan tindakan setelah melihat atau mempelajari sesuatu yang ada di sekitar.

Inspirasi juga bisa dimaknai dengan gagasan-gagasan kreatif yang muncul dari dalam diri setelah ada rangsangan dari luar. Maka dari itu, guru harus bisa menjadi “perangsang” bagi siswanya, memberi inspirasi agar siswa senantiasa dapat terdorong untuk  memunculkan ide, gagasan, pemikiran, tindakan, nilai, hingga kretifitas yang positif.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Karena sebesar apapun jasanya tidak ada tanda jasa yang ia terima. Tidak ada pangkat bintang 1, bintang 2 ataupun bintang-bintang yang lain. Guru adalah yang mengajarkan kita semua menulis dan membaca.

Guru, tugas utamanya adalah 7M yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Profesi seorang guru yang terang benderang menjadi role model atau panutan kita semua untuk mendapatkan pelajaran hidup, baik tulisan maupun lisan. Guru juga menjadi orangtua kedua kita setelah kedua orangtua kita.

"Wahai guruku, meskipun engkau tidak dapat bintang tanda jasa, tidak ada gelar untuk diakui, engkau tetap jadi guru inspirasiku yang tak letih-letih mengajarkan kam. Engkau tetap menjadi tauladan yang sangat berjasa dalam membentuk karakter kami siswamu. Tapi apakah kau masih menjadi inspirasi bagi kami di era milenial saat ini ?"

Di era digital seperti sekarang ini, siswa disajikan dengan sumber belajar yang begitu luas. Tanpa melalui perantara dari guru pun, siswa bisa belajar mandiri dengan mengambil sumber belajar dari internet, televisi, dan lain sebagainya.

Jadi, masihkah peran guru dibutuhkan dalam proses pembelajaran? Mengingat saat ini siswa sudah bisa belajar dari berbagai sumber yang begitu dekat dari kehidupan sehari-hari mereka.

Inilah satu tantangan yang dihadapi guru di era digital. Jika guru di kelas hanya sekadar mengajar menyampaikan materi pelajaran, maka peran ini sudah sangat bisa digantikan oleh teknologi era digital.

Zaman sekarng ini peserta didik sudah lebih percaya kepada situs pencarian google dibanding bertanya kepada guru tentang materi pembelajaran. Siswa sudah bisa dengan mudah membuka situs pencarian google, youtube, dan lain sebagainya yang memuat informasi tak terbatas.

Tentang ragam metode pembelajaran, saat ini telah banyak games edukatif yang lebih menarik untuk diikuti dibandingkan dengan pengajaran-pengajaran guru yang cendrung monoton. Lalu, apakah kehadiran guru masih dibutuhkan?

Mengenai pertanyaan masih dibutuhkan atau tidaknya guru, tentu dengan mantap jawabnya adalah masih sangat dibutuhkan dengan catatan guru harus mau dan mampu melakukan inovasi agar perannya tidak diganti oleh kecanggihan - kecanggihan teknologi, karena guru adalah ujung tombak dari pendidikan karakter yang saat ini menjadi esensi dari tujuan pendidikan kita secara nasional.

Sekali lagi jika hanya menyampaikan materi saja, maka pekerjaan itu sudah bisa tergantikan oleh media pembelajaran yang berkembang di era digital saat ini.

"Nah, saya berharap guru di zaman sekarang ini hadir untuk menginspirasi siswa dan senantiasa menjadi sosok panutan yang layak diteladani dalam segala aspek berkehidupan serta menjadi sosok terdepan untuk memberi semangat, motivasi dan kalimat positif untuk siswanya agar terus berkembang".

Hendaknya guru lebih inovatif, kreatif dan dapat membenahi dirinya agar siswanya lebih dahulu tertarik bertanya kepada guru dibanding bertanya pada situs-situs web yang ada sekarang ini.

Saat ini  dalam rangka memperingati hari guru tepat pada 25 November 2018, instansi-instasi sekolah hanya melakukan rutinitas, di mana hanya potong-potong kue dan berselfie ria. Sementara substansi hari guru kini sudah terlupakan dengan kemeriahan-kemeriahan yang sebenarnya tidak menjawab kebutuhan guru.

Ini sangat patut disayangkan, karena seharusnya hari guru menjadi momentum bagi guru dan pemerintah untuk mengkaji persoalan yang mempengaruhi kualitas kinerja guru.

Harapannya di momentum yang hanya sekali dalam satu tahun, guru dan pemerintah merefleksikan, sudah sejauh mana kinerja guru dan dukungan pemerintah terhadap guru dalam pencapaian tujuan pendidikan. (tamat)