Notification

×

Iklan

Iklan

Benarkah kopi dapat mengurangi risiko penyakit otak?

8 Nov 2018 | 12:19 WIB Last Updated 2019-11-10T13:31:30Z
Ilustrasi
Green Berita - Para peneliti Kanada yang berasal dari Krembil Brain Institute di Toronto menguji Starbucks VIA Instan light roast, dark roast, dan dark roast tanpa kafein untuk senyawa yang dikenal sebagai fenilindan. Itu karena mereka berpikir senyawa, yang merupakan hasil dari proses pemanggangan, adalah kunci untuk kesehatan otak—tidak harus berdasarkan jumlah kafein, sebagaimana laporan USA Today dilansir Kamis.

Fenilindan mencegah dua fragmen protein yang umum pada Alzheimer dan Parkinson, menurut penelitian yang dipublikasikan di Frontiers di Neuroscience pada bulan lalu.

“Ini pertama kali ada orang yang menyelidiki bagaimana fenilindan berinteraksi dengan protein yang bertanggung jawab terhadap Alzheimer dan Parkinson,” ujar peneliti yang terlibat dalam penelitian Ross Mancini, dalam penyataannya.

Kopi dark roast menghasilkan fenilindan dengan jumlah tertinggi, tampaknya membuatnya menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan otak.

Kendati demikian, seberapa menguntungkan senyawa tersebut masih belum diketahui, tutur Mancini.

Sebelum Anda mengubah kebiasaan minum Anda, penelitian kopi harus direspons agak skeptis. Sebagai Howard Bauchner, pemimpin redaksi jurnal medis JAMA (The Journal of the American Medical Association) dan The JAMA Network, mengatakan kepada USA Today di musim panas, sebagian besar penelitian tentang kopi itu adalah penelitian asosiasi, yang artinya mereka tidak menunjukkan bahwa kopi adalah alasan sebenarnya untuk temuan tersebut.

“Ini menarik tetapi apakah kami menyarankan bahwa kopi adalah obat? Tentu saja, tidak,” ujar direktur bersama Krembil Brain Institute peneliti Donald Weaver, dalam sebuah pernyataan. (Antara)