Notification

×

Iklan

Iklan

Block Petisah Dibangun Tanpa APBD, 200 UMKM Disiapkan Bangkitkan Pasar Legendaris Medan

12 Okt 2026 | 17:27 WIB Last Updated 2026-10-12T10:27:35Z

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas lakukan groundbreaking Pembangunan Pasar Petisah, yang dikembangkan melalui kerja sama antara Perusahaan Umum Daerah Pasar Kota Medan dan investor tanpa menggunakan APBD, Senin (12/10- fando/gb)
GREENBERITA.com- Pemerintah Kota (Pemko) Medan mulai membangun wajah baru Pasar Petisah melalui pengembangan Block Petisah, sebuah kawasan perdagangan kreatif yang dirancang untuk menghidupkan kembali kunjungan masyarakat sekaligus memperluas peluang usaha bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.


Pembangunan ditandai dengan groundbreaking yang dilakukan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas di Pasar Petisah, Senin (12/10/2026). Proyek tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara Perusahaan Umum Daerah (PUD) Pasar Kota Medan dan investor tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).


Pada tahap awal, Block Petisah direncanakan menampung sekitar 200 UMKM, terutama sektor kuliner dan ekonomi kreatif, dengan konsep pasar yang memadukan aktivitas perdagangan, ruang berkumpul, dan kegiatan komunitas.


Groundbreaking turut dihadiri Ketua DPRD Kota Medan Wong Chun Sen, unsur Forkopimda, Pj Sekda Medan Erfin Fahrurrazi, Direktur Utama PUD Pasar Anggia Ramadhan, Ketua DPD Walubi Sumut Meriyawaty Amelia Prasetio, tokoh agama Buya Amirruddin, serta jajaran perangkat daerah dan direksi PUD Pasar.


Rico Waas mengatakan, revitalisasi Block Petisah tidak sekadar memperbarui bangunan fisik, tetapi juga membangun ekosistem perdagangan yang mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan modern.


“Pasar Petisah ini monumental, ikonik, dan sangat dikenal. Namun, pasar tradisional menghadapi tantangan dengan berkembangnya pasar modern dan pusat-pusat ritel lainnya. Karena itu, kita ingin membangun pasar kreatif yang disukai masyarakat dan anak-anak muda, sekaligus menjadi tempat berkumpul yang dapat mendorong UMKM semakin berkembang,” ujar Rico Waas.


Menurutnya, Pasar Petisah memiliki nama besar dan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk menarik kembali minat masyarakat. Karena itu, konsep pasar kreatif diharapkan menghadirkan pengalaman berbelanja sekaligus ruang interaksi dan kegiatan masyarakat.


Rico mencontohkan Pasar Santa di Jakarta dan The Hallway Space di Bandung sebagai model kawasan yang menggabungkan perdagangan dengan aktivitas kreatif.


“Kalau sirkulasi ekonominya terbangun, mudah-mudahan PAD juga semakin baik. Yang kita dorong bukan hanya pembangunan tempatnya, tetapi bagaimana aktivitas ekonomi di dalamnya berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelas Rico Waas.


Ia menegaskan, pengembangan Block Petisah harus disertai perencanaan dan aturan yang jelas agar pelaku usaha dapat berkembang secara tertib dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari penataan aktivitas perdagangan, termasuk usaha kuliner dan angkringan di sejumlah ruas jalan.


“Kita sedang membangun ekosistem yang baik. Perlu aturan dan perencanaan yang matang, bagaimana pelaku usaha bisa meningkatkan kualitas produknya, tetap mengikuti aturan, tetapi pendapatannya juga semakin baik. Kita ingin merangkul semuanya,” tegas Rico Waas.


Rico berharap Block Petisah berkembang bukan hanya sebagai tempat berjualan, melainkan juga ruang kegiatan kreatif dan event space yang mampu menghidupkan interaksi masyarakat serta menciptakan efek berganda bagi usaha kuliner, fesyen, dan produk kreatif lainnya.


Direktur Utama PUD Pasar Kota Medan Anggia Ramadhan menjelaskan, pembangunan Block Petisah merupakan tindak lanjut arahan wali kota untuk mengembangkan pasar tradisional menjadi ruang kreatif yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha lokal.


Anggia menegaskan, UMKM asal Kota Medan menjadi prioritas. Pengelolaan kawasan juga diarahkan agar memberikan kesempatan kepada usaha kecil, bukan didominasi merek besar atau pelaku usaha dari luar daerah.


“Komitmen kita bersama investor adalah bagaimana memfasilitasi dan memberdayakan pelaku UMKM Kota Medan. Karena ini untuk kelas UMKM, biaya sewanya akan dibuat sangat terjangkau dengan skema pembayaran per tahun,” jelas Anggia.


Selain menyiapkan kawasan kreatif, PUD Pasar memastikan penataan pedagang lama menjadi bagian dari revitalisasi. Pedagang kuliner yang telah berjualan sebelumnya akan diprioritaskan, sedangkan pedagang lantai dua yang terdampak pembangunan telah melalui proses zonasi dan relokasi.


“Pedagang kuliner yang sudah ada akan kita prioritaskan. Untuk pedagang lantai dua yang terdampak, proses relokasi dan penzonasiannya sudah dilakukan, termasuk pencabutan nomor tempat. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar dan tidak menimbulkan persoalan,” ujarnya.


Harapan terhadap kebangkitan Pasar Petisah juga disampaikan para pedagang. William, pedagang makanan ringan, menyambut positif pembangunan tersebut karena berharap kawasan yang selama ini cenderung sepi kembali ramai dikunjungi masyarakat.


“Bagus sih. Selama ini sudah agak sepi. Mudah-mudahan makin hidup, banyak orang luar yang masuk, banyak pengunjung, dan pasar ini semakin berkembang,” kata William.


Ia mengungkapkan, kondisi pasar yang relatif sepi telah dirasakan selama lebih dari 10 tahun. Karena itu, ia berharap konsep baru Block Petisah mampu meningkatkan aktivitas perdagangan dan pendapatan pedagang.


Sementara itu, Sundari, warga yang kerap berbelanja pakaian di Pasar Petisah, berharap revitalisasi tersebut dapat mengembalikan pamor pasar sebagai salah satu pusat belanja ternama di Medan.


“Saya berharap Petisah dibangun dan direnovasi agar kembali menjadi tempat yang ternama di Kota Medan,” ujarnya.


Sundari mengaku memilih Pasar Petisah karena harga pakaian yang terjangkau dengan kualitas bahan yang dinilai baik dan tahan lama.


Melalui pembangunan tanpa APBD, prioritas bagi sekitar 200 UMKM, serta penataan pedagang lama, Block Petisah diharapkan menjadi momentum kebangkitan pasar legendaris Medan sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.**(Gb-fando01)