Notification

×

Iklan

Iklan

Mutu Jembatan Sigarantung Disorot, Material hingga Jalan Pengalihan Dipertanyakan

25 Agu 2026 | 18:05 WIB Last Updated 2026-08-25T11:22:57Z

Mutu Jembatan Sigarantung Samosir Senilai Rp30 Miliar Dipertanyakan, Material Bercampur Lempung Jadi Sorotan
GREENBERITA.com- Pembangunan Jembatan Sigarantung di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, mendapat sorotan warga terkait kualitas material dan pengendalian mutu pekerjaan. Sorotan itu mencakup penggunaan material agregat, proses pencampuran beton, pengecoran abutment, hingga kondisi jalan pengalihan yang digunakan masyarakat.


Seorang Warga Samosir, Marko Siringoringo, Selasa (25/8/2026), mengatakan batu pecah dan pasir yang digunakan terlihat kotor serta bercampur lempung. Menurutnya, material tersebut perlu dipastikan memenuhi spesifikasi melalui pemeriksaan dan pengujian.


“Material yang bercampur lempung perlu diuji apakah memenuhi spesifikasi. Begitu juga beton yang dicampur menggunakan truk mixer harus dipastikan sesuai dokumen kontrak,” ujar Marko.


Ia juga meminta metode pengecoran abutment, termasuk penerapan construction joint apabila pengecoran dilakukan bertahap, diperiksa. Selain mutu pekerjaan, Marko meminta jalan pengalihan tetap layak dan aman digunakan masyarakat.


“Jangan hanya mengejar pekerjaan selesai, tetapi mutu dan keselamatan masyarakat harus diperhatikan,” katanya.


Data proyek yang dihimpun, pembangunan Jembatan Sigarantung merupakan jembatan rangka baja standar sepanjang 80 meter pada Jalan Tomok–Onan Runggu, dengan nilai kontrak Rp30.743.005.612. Proyek bersumber dari APBN 2026 dengan masa pelaksanaan 300 hari kalender.


Kontrak bernomor HK.02.01/KTR/BBPJN 1.7.6/01/2026 ditandatangani pada 27 Februari 2026. Penyedia jasa adalah PT Sarjis Agung Indra Jaya, sedangkan konsultan pengawas terdiri dari PT Progresia Aditya Pratama KSO, PT Jakarta Rencana Selaras KSO, dan PT Transima Citra Indonesia Consultant.


Sementara itu, konsultan Henry F Sitanggang mengatakan mutu beton tidak dapat disimpulkan hanya dari slump test atau alat pencampur. Kualitas material, Job Mix Formula (JMF), proses pencampuran, dan hasil uji kuat tekan harus menjadi acuan.


“Slump test hanya menunjukkan konsistensi beton. Mutu beton harus dibuktikan melalui rangkaian pengujian dan hasil kuat tekan,” katanya.**(Gb-ferndt01)