Notification

×

Iklan

Iklan

Mencegah Yang Terburuk Berkuasa

24 Des 2019 | 11:35 WIB Last Updated 2019-12-24T04:56:44Z
Profesor Frans Magnis Suseno

Oleh: Bachtiar Sitanggang

Suatu ketika, Profesor Dr. Frans Magnis Suseno SJ, seorang dosen dan guru besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta pernah mengatakan “kita harus memilih yang kurang
buruk di antara yang buruk”.

Romo Magnis dalam suatu diskusi “Mengarahkan Haluan Politik Indonesia Pasca-Reformasi” di kantor Maarif Instite, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (4/3 2014), mengatakan bahwa masyarakat dihadapkan pada calon-calon pemimpin yang terbilang buruk. 

Dia juga mengakui kinerja partai politik (parpol) di Indonesia mengecewakan, namun bukan itu alasan untuk tidak berpartisipasi dalam Pemilu.

“Tapi, kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk. Pilihlah, dalam demokrasi seseorang harus memilih," dalam berita tribunnews pada Rabu, 5 Maret 2014.

Menjelang Pemilu 2019 sering saya temukan ungkapan kutipan dari ucapan Prof. Magnis dengan versi lain namun magnanya mirip atau serupa tapi tak sama mengungkapkan “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa”. 

Tetapi saya telusuri kapan dan dalam kaitan apa, saya tidak menemukannya, namun yang ditemukan adalah “kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk”, di atas.

Kalau diperbandingkan kedua ungkapan “kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk” dengan “bukan memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa” bila dimaknai maksud dan tujuannya adalah sama.

Dalam pemahaman filsafat bahwa semua manusia itu telah “berdosa” atau buruk oleh karena itu Prof. Magnis mengajak masyarakat untuk memilih yang kurang atau “sedikit” buruknya. Sebaliknya, kalau semua “buruk” sama juga semua baik, akan tetapi Romo Magnis juga mengingatkan bahwa pemilihan itu bukan memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.

Yang namanya baik pasti berbuat yang terbaik dan naluri dan hati nurani-nya adalah untuk kebaikan sehingga perilakunya serta tujuan hidupnya adalah untuk berbuat kebajikan. Tetapi bagaimana kalau ada orang-orang yang terburuk ingin atau mau berkuasa? Di situlah Prof. Frans Magnis Suseno mengajak semua pihak melalui Pemilihan (apapun, Pilleg, Pilpres/wapres, Pilkada) untuk mencegah agar manusia-manusia “terburuk” itu tidak berkuasa.

Baik-buruknya seseorang itu relative dan personal-individual penilaiannya, baik oleh objektifitas maupun subjektifitas. Dan ukurannyapun tidak jelas trmasuk ukuran pidana sebab yang telah dihukum melakukan kejahatan korupsi oleh pengadilanpun dapat mencalonkan diri setelah lima tahun.

Namun sebagai ahli dan gurubesaf filsafat Prof. Magnis mengajarkan kepada kita bagaimana memperbaiki hidup dan masa depan serta tidak menyerahkan hidup dan kehidupan sebagai warga kabupaten, daerah dan negara ke tangan orang-orang “terburuk” dan penilaian itu sering terpengaruh oleh berbagai faktor lahiriah walaupun kadang-kadang tidak sesuai dengan hati nurani.

Apalagi ada peribahasa “suhar bulu ditarik dongan suhar do tarikon”, artinya kalau ada teman yang menarik bambu terbalik, kita juga mengikutinya. 
Suatu ungkapan yang harus diluruskan, kalau sudah tahu seseorang itu salah, kita wajib mengingatkannya. Tidak justru ikut-ikutan berbuat serupa.

Begitulah kira-kira seruan Prof. Magnis Suseno itu hendaknya menggema ke tengah-tengah masyarakat Samosir yang sedang dalam persiapan dan akan menyelenggarakan Pilkada, dan tidak ada salahnya untuk direnungkan sekaligus dipraktekkan, memilih yang kurang buruk di antara yang buruk dan atau mencegah yang terburuk untuk berkuasa.

Sudah tahu perangainya “terburuk” kalau tokh masih dipilih, ya risiko sendiri, menyaksaikannya selama lima tahun, artinya teliti sebelum membeli atau jangan membeli kucing dalam karung. Cermati dan pahami seseorang itu apakah dia menjadi berkat atau sebaliknya menjadi bencana. Orang baik biasanya memiliki konsep yang baik dan perencanaannya juga untuki kebaikan khalayak umum tidak asal kerja, tetapi bekerja sebagai pelayanan bagi sang pemberi Kehidupan dan bukan untuk menjadi raja dan penguasa.

Bagaimana mengetahui seseorang itu terburuk dari yang lain tidaklah mudah tergantung persepsi yang bersangkutan, Prof. Magnis Suseno mungkin perlu menjelaskan lagi bagaimana “mencegah yang terburuk berkuasa”, namun sinyal perlunya “mencegah yang terbutuk berkuasa”, perlu diperhatikan agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat dan pembangunan tidak jalan di
tempat, agar Samosir tidak tetap bagian dari “Tapanuli peta kemiskinan kemiskinan di Sumatera Utara”.***


(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)