Notification

×

Iklan

Iklan

Ayahnya meninggal dan Ibu Menikah Lagi, Pria Remaja Ini Jadi Tulang Punggung Keluarga

4 Feb 2019 | 14:33 WIB Last Updated 2019-11-10T13:48:30Z
Sapri Yadi (kiri baju hitam) Ketua Pemuda Tiyuh Penumangan Kecamatan Tulangbawang Tengah Kabupaten Tubaba saat berkunjung ke tempat tinggal Jamil (paling kanan) bersama adik-adiknya di perkebunan karet sekitar Tiyuh setempat | Sumber foto: kupastuntas.co
TULANGBAWANG BARAT, GREENBERITA.com - Sejak ditinggalkan orang tuanya, Jamil (15), Warga Tiyuh Penumangan Kecamatan Tulangbawang Tengah Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) terpaksa harus menjadi tulang punggung keluarga.

Kisah keluarga ini memang menyentuh hati. Bagaimana tidak, sejak ayahnya meninggal dunia karena sakit, sang ibu justru menikah lagi. Jamil kemudian harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi kedua adiknya.

Ia sudah terbiasa mengurus baik makan minum dan menyekolahkan adiknya Sahrodin yang masih kelas 3 (tiga) SD, dan Sahril yang masih berumur sekitar 8 tahun.

"Kami sudah lama tinggal di kebun dengan dua adik saya karena ayah meninggal pada tahun lalu dan ibu saya menikah lagi, namun kami tetap di jenguk oleh ibu walaupun seminggu sekali, dan selain kedua adik saya masih ada adik saya yang bernama Erwin, dia mondok di salah satu pondok kagungan," kata Jamil, dilansir kupastuntas.co, Minggu (3/2/2019).

Selain kedu adiknya, Jamil menyebutkan, masih ada abang dan dua adiknya lagi. "kami 6 (enam) saudara yang pertama abang saya namanya Agus dan saya anak kedua dan empat adik saya yang tidak tinggal satu tempat lantaran ada satu adik saya yang disekolahkan oleh warga Tiyuh Penumangan bapak Paksi, dan juga abang saya Agus merantau ke Bandung karena diajak temannya untuk kerja dan dia pun berangkat baru di awal tahun ini," terang Jamil.

Jamil hanya tinggal bertiga bersama kedua adiknya. Untuk memenuhi hidup, kesehariannya Jamil bekerja sebagai penyadap karet. "Hasilnya pun tidak menentu kadang kalau hujan nggak ada penghasilan, dan setiap pagi saya selalu mengantar adik saya sekolah ke SDN 1 Penumangan Baru, usai mengantar adik, saya pun melanjutkan pekerjaan," cerita Jamil.

Jamil mengaku sedih pada saat hujan. Lantaran, getah hasil penderesannya hancur. "Hasil deresa getah karet itulah yang kami bagi dua dengan majikan. Itu yang saya gunakan untuk membeli beras, alat-alat dapur dan juga untuk adek sekolah," ucap Jamil

Jamil menaruh harapan kepada pemerintah supaya bisa membantu pendidikan adik-adiknya, atau paling tidak di pondok pesantrenkan.

"Saya tahu betapa sulitnya jika menjadi anak tidak sekolah, saya berhenti dari kelas 3 SD karena gurunya galak dan teman-teman saya suka membuly saya. Saya berharap agar kedua adik saya jangan sampai mereka seperti saya tidak sekolah," tuturnya. (Rel/GB)