Notification

×

Iklan

Iklan

Produksi Perikanan Sumut Tembus 382 Ribu Ton, Pemprov Kejar Hilirisasi hingga Pesisir

17 Sep 2026 | 20:02 WIB Last Updated 2026-09-17T13:02:24Z

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemprovsu paparkan program pada temu pers yang digelar Diskominfosu di Kantor Gubsu, Medan, Kamis (17/9- Ferndt/gb)
GREENBERITA.com- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) mulai menggenjot pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya dengan mengintegrasikan seluruh rantai usaha, mulai dari produksi hingga pengolahan hasil perikanan.


Program strategis daerah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pesisir.


Pengembangan kawasan dilakukan secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir. Pemprov Sumut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumut bersama Universitas Sumatera Utara (USU) telah menyusun master plan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya.


Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Sumut Jenny Masniari Sinaga mengatakan, pengembangan kawasan pada 2026 diprioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur Sumut. Sementara Kepulauan Nias akan menjadi prioritas pengembangan pada 2027.


“Tahun 2026 ini untuk pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap kita prioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur dan tahun 2027 kita kembangkan di kepulauan Nias,” ujar Jenny.


Hal tersebut disampaikan Jenny dalam konferensi pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di lobi Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Kamis (17/9/2026).


Menurut Jenny, penentuan lokasi kawasan unggulan didasarkan pada potensi dan produksi perikanan masing-masing daerah.


Berdasarkan data DKP Sumut, total produksi perikanan Sumut pada 2025 mencapai 382.127,77 ton. Sedangkan target produksi perikanan pada 2026 sebesar 383.036,91 ton, dengan capaian hingga triwulan II 2026 sebesar 200.931,45 ton.


Sejumlah daerah tercatat memiliki produksi perikanan tinggi pada 2025, di antaranya Tapanuli Tengah (Tapteng), Batubara, Asahan, dan Tanjungbalai. Data produksi tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan lokasi kawasan unggulan.


“Data produksi ikan inilah yang menjadi dasar kami untuk memilih penentuan lokasi sebagai kawasan unggulan yang konsepnya dibangun dari hulu ke hilir, dimana nelayan kita berikan alat tangkap dan bantuan lain yang dibutuhkan dan nanti dibantu hilirisasinya hingga pengolahan,” terang Jenny.


Untuk wilayah pengelolaan perikanan 572, pengembangan mencakup Kepulauan Nias yang meliputi Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, dan Kota Gunungsitoli.


Sedangkan kawasan pantai barat meliputi Sibolga, Tapteng, Tapanuli Selatan (Tapsel), dan Mandailing Natal (Madina).


Sejumlah komoditas menjadi potensi perikanan di wilayah tersebut, antara lain cakalang, tongkol, tenggiri, tuna sirip kuning, kembung, layang, selar kuning, tembang, kuwe, dan bawal.


Sementara wilayah pengelolaan perikanan 571 mencakup kawasan pantai timur, yakni Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Utara.


Komoditas yang menjadi potensi utama di kawasan tersebut antara lain kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, lencam pasir mata besar, udang jerbung, dan layang benggol.


Jenny mengatakan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi. Program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, menjaga keberlanjutan ekosistem laut, serta memperkuat rantai usaha perikanan.


Dalam master plan turut disusun pengembangan kawasan unggulan pengolahan ikan asin di Sibolga, Asahan, Batubara, dan Tanjungbalai. Pengembangan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan.


“Kita harapkan potensi ikan yang berlebih di daerah ini bisa diolah menjadi ikan asin,” kata Jenny.


Pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap juga terintegrasi dengan program Kampung Nelayan Merah Putih.


Pada 2025, program tersebut telah dibangun di empat wilayah, yakni Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, dan Batubara.


Sedangkan pada 2026, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sumut direncanakan mencakup 11 wilayah di pantai timur dan 18 wilayah di pantai barat.


Di sektor budidaya, Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sumut Muhammad Riza Kurnia Lubis mengatakan Sumut memiliki potensi besar untuk mengembangkan perikanan budidaya.


Salah satu komoditas unggulan yang banyak diminati adalah udang vaname yang hingga kini masih menjadi komoditas ekspor.


Selain itu, Pemprov Sumut juga memberikan perhatian terhadap pengembangan rumput laut yang dinilai memiliki peluang pasar ekspor.


“Ada juga beberapa komoditas lain yang menjadi konsern Sumut seperti tahun ini kita prioritaskan rumput laut juga diminati pasar ekspor,” kata Riza.**(Gb-ferndt01